Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Darimana Asalnya?

Ilustrasi awan yang mengandung mikroplastik
Ilustrasi awan yang mengandung mikroplastik

 Belakangan ini publik tenagh dihebohkan dengan penelitian yang dipublikasikan oleh dan Inovasi Nasional (BRIN) soal air hujan di Jakarta. Dalam penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sample air hujan di ibu kota.

Menyusul dengan temuan tersebut, ahli kesehatan lingkungan dan peneliti Global Health, dr. Dicky Budiman mengungkap bahwa fenomena ini terjadi bukan hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara lain di dunia. Dia menyebut beberapa negara tersebut seperti di daerah pegununagan di Amerika Serikat, bahkan di tempat terkecil di Eropa seperti di Alpen.

”Jadi fenomena air hujan mengandung mikroplastik ini juga terjadi di banyak negara lain di dunia. Sejumlah penelitian internasional sudah membuktikan itu, bahkan di negara Asia lai seperti Jepang, China, Korea konsentrasi mikroplastik udara dan hujan tinggi di wilayah perkotaan dan industri padat demikian juga di Australia. Fenemona kini disebut oleh ilmuan sebagai bagian dari siklus plastik atau siklus plastis global (Global plastic cycle) dimana plastik kini beredar layaknya karbon dan air jadi menjadi bagian permanen dari sistem ini cukup miris, memprihatinkan,” kata dia saat dihubungi VIVA.co.id, Senin 20 Oktober 2025.

Terkait dengan adanya kandungan mikroplastik pada air hujan, Dicky menyebut bahwa kandungan mikroplastik tersebut bisa berasal dari abrasi seperti ban kendaraan hingga jalan beraspal. Bahkan yang mengejutkannya lagi mikroplastik ini juga ditemukan dari proses mencuci pakaian berbahan sintetis.

”Mikroplastik yang ada di udara ini berasal dari abrasi misalnya dari ban kendaraan dan jalan beraspal juga debu pakaian sintetis dari proses mencuci dan mengeringkan juga proses pembakaran sampah plastik yang tidak sempurna juga degradasi plastik di lautan, daratan yang kemudian terbawa angin dan uap air. Partikel mikro ini bersifat hidroskopis jadi mudah menempel pada uap air sehingga ikut terangkut ke atmosfer dan turun kembali bersama hujan, ini yang disebut sebagai plastik hujan atau plastik rain oleh peneliti atmosfer,” kata dia.

Lantas bagaimana langkah mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah? Dicky sendiri memberikan beberapa contoh mitgasi yang dilakukan di beberapa negara untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu dan yang utama adalah dengan mengendalikan paparan mikro plastik.

”Bagaimana mitigasi di negara lain yang sudah dilakukan khususnya di negara maju? Mereka mengambil kebijakan multilevel untuk mengendalikan paparan mikro plastik antara lain mitigasi di sumbernya atau upstrain. Di Eropa mereka melarang mikroplastik di deterjen, dan juga bahan pembersi. Di Jepang, Korea misalnya mereka mewajibkan industri tekstil dan otomotif itu mengurangi emisi serat mikro juga di Eropa seperti Prancis mewajibkan setiap mesin cuci baru memiliki filter mikroplastik,” kata dia.

Dicky juga mengingatkan bahwa mitigasi lingkungan juga perlu dilakukan caranya dengan pengolahan limbah air kotor dengan sistem filtrasi. Serta pengembangan green infrastuktur dimana taman kota dan bio filter untuk menyaring air limpasan sebelum masuk ke tanah

”Implikasinya bagi Indonesia adalah penting untuk diketahui adalah kita harus menetapkan standar ambang batas mikroplastik dalam air, udara dan makanan juga perlu kampanye literasi lingkungan supaya masyarakat memahami bahwa plastik tidak mencemari laut tapi juga udara yang kita hirup dan hujan yang kemungkin air hujan ditampung untuk diminum,” kata dia.