Mengapa Disebut Makassar? dari Legenda hingga Catatan Majapahit

Makassar, Kerajaan Gowa, bugis makassar, Kerajaan Gowa Tallo, Budaya Makassar, asal usul Makassar, sejarah Makassar, legenda Makassar, Portugis di Makassar, sejarah Sulawesi Selatan, asal nama Makassar, Mengapa Disebut Makassar? dari Legenda hingga Catatan Majapahit, Legenda Dua Anak Raja, Makkasara dan Maugi, Versi Permaisuri Raja Gowa: I Daeng Mangkasara, Kerajaan Gowa-Tallo, Dua Raja Satu Rakyat, “Makkasaraki Nabbiya ri Butta Gowa”, Makassar dalam Catatan Majapahit, Makassar dalam Karya Sastra La Galigo, Bangsa Portugis Berlayar ke Makassar, Pengaruh Portugis di Makassar, Jejak Panjang Nama Makassar

Nama Makassar yang kini dikenal sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ternyata memiliki sejarah panjang dan berlapis.

Asal-usulnya tak hanya berasal dari satu sumber, melainkan dari berbagai legenda, mitos, dan catatan sejarah yang saling melengkapi.

Dikutip dari buku “Makassar Tempo Doeloe”, berbagai versi tentang asal mula nama Makassar berkembang di tengah masyarakat dari berbagai suku, seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Cerita-cerita ini menggambarkan bagaimana nama Makassar awalnya merujuk pada nama seseorang, lalu menjadi nama suku bangsa, dan akhirnya menjadi nama daerah serta kerajaan besar di bagian timur Nusantara.

Legenda Dua Anak Raja, Makkasara dan Maugi

Salah satu legenda tertua yang hidup di kalangan masyarakat Bugis-Makassar menceritakan tentang seorang raja yang memiliki dua anak laki-laki dengan sifat yang sangat berbeda.

Anak pertama dikenal memiliki watak keras dan tegas, sehingga diberi nama Makkasara, sedangkan anak kedua memiliki sifat lembut dan santun, lalu dinamai Maugi.

Dari sinilah asal mula munculnya dua suku besar di Sulawesi Selatan, yakni Makassar dan Bugis.

Menurut Nasruddin Koro (halaman 209), setelah dewasa, kedua anak itu menikah dan memiliki keturunan yang tersebar di wilayah berbeda. Keturunan Makkasara tetap tinggal di wilayah selatan yang kini dikenal sebagai Makassar, sedangkan keturunan Maugi menetap di bagian utara dan menjadi cikal bakal masyarakat Bugis.

“Dari keturunan dua anak raja inilah kemudian lahir dua suku besar yang masih satu rumpun, yaitu Makassar dan Bugis,” tulis Nasruddin Koro dalam penelitiannya.

Versi Permaisuri Raja Gowa: I Daeng Mangkasara

Makassar, Kerajaan Gowa, bugis makassar, Kerajaan Gowa Tallo, Budaya Makassar, asal usul Makassar, sejarah Makassar, legenda Makassar, Portugis di Makassar, sejarah Sulawesi Selatan, asal nama Makassar, Mengapa Disebut Makassar? dari Legenda hingga Catatan Majapahit, Legenda Dua Anak Raja, Makkasara dan Maugi, Versi Permaisuri Raja Gowa: I Daeng Mangkasara, Kerajaan Gowa-Tallo, Dua Raja Satu Rakyat, “Makkasaraki Nabbiya ri Butta Gowa”, Makassar dalam Catatan Majapahit, Makassar dalam Karya Sastra La Galigo, Bangsa Portugis Berlayar ke Makassar, Pengaruh Portugis di Makassar, Jejak Panjang Nama Makassar

Pasukan kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan (baju merah) mengawal keranda Raja Gowa ke 38 ke masjid Tua Katangka untuk disholatkan sebelum dimakamkan. Jumat, (29/11/2024)

Versi lain yang populer menyebutkan bahwa nama Makassar berasal dari nama permaisuri Raja Gowa ke-XII, I Tajibarani Daeng Marompa, yaitu I Daeng Mangkasara.

Perkawinan megah Raja Gowa dan I Daeng Mangkasara pada tahun 1515 menjadi peristiwa besar yang dihadiri masyarakat setempat, bangsawan, hingga orang asing dari Portugis.

Nama sang permaisuri yang dikenal cantik jelita dan berwibawa kemudian terkenal luas hingga ke Eropa.

Ketenaran nama “Mangkasara” bukan hanya karena kecantikan permaisuri, tetapi juga karena keberhasilan Raja Gowa memperluas perdagangan maritim dan menjadikan Gowa sebagai kerajaan besar di kawasan timur Nusantara.

Pada masa itu, pelabuhan Makassar mulai ramai disinggahi pedagang dari berbagai bangsa, termasuk Portugis, Melayu, dan Tionghoa.

Dari sinilah nama “Makassar” makin dikenal luas di dunia perdagangan internasional.

Kerajaan Gowa-Tallo, Dua Raja Satu Rakyat

Versi lain datang dari catatan Abd Razak Dg Patunru (halaman 9) yang menulis bahwa nama Makassar juga muncul dari penyatuan Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad ke-15.

Raja Gowa ke-VI Tunatangkalopi (1445–1460) memiliki dua putra, Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero.

Karena khawatir akan terjadi perebutan tahta, sang raja memutuskan untuk membagi dua wilayah kekuasaan menjadi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Meski terbagi, kedua kerajaan itu tetap bersatu sebagai kerajaan kembar yang dikenal dengan ungkapan Makassar kuno:

“Rua Karaeng, Se’ra ata,” yang berarti dua raja, tapi satu rakyat.

Kedua kerajaan itu bahkan mengikat sumpah persatuan dengan kalimat suci:

“Inai-naimo tau ampasisa’laki Gowa na Tallo Nikutuki ri Dewataya,” artinya barang siapa yang memisahkan Gowa dan Tallo akan dikutuk oleh dewata.

Dari sumpah inilah, Gowa-Tallo dikenal sebagai Kerajaan Makassar, yang kemudian menjadi kerajaan maritim terkuat di kawasan timur Indonesia.

“Makkasaraki Nabbiya ri Butta Gowa”

Makassar, Kerajaan Gowa, bugis makassar, Kerajaan Gowa Tallo, Budaya Makassar, asal usul Makassar, sejarah Makassar, legenda Makassar, Portugis di Makassar, sejarah Sulawesi Selatan, asal nama Makassar, Mengapa Disebut Makassar? dari Legenda hingga Catatan Majapahit, Legenda Dua Anak Raja, Makkasara dan Maugi, Versi Permaisuri Raja Gowa: I Daeng Mangkasara, Kerajaan Gowa-Tallo, Dua Raja Satu Rakyat, “Makkasaraki Nabbiya ri Butta Gowa”, Makassar dalam Catatan Majapahit, Makassar dalam Karya Sastra La Galigo, Bangsa Portugis Berlayar ke Makassar, Pengaruh Portugis di Makassar, Jejak Panjang Nama Makassar

Koleksi La Galigo di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta

Masuknya agama Islam juga memberikan pengaruh penting terhadap penamaan Makassar.

Ketika Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin (Manga’rangi Daeng Manrabbia) bersama mangkubuminya Karaeng Matoaya (I Mallingkaan Daeng Nyonri, Sultan Awwalul Islam) memproklamasikan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1605, muncul istilah “Makkasaraki Nabbiya ri Butta Gowa”.

Istilah itu berarti “semakin nyatalah ajaran Nabi Muhammad di Tanah Gowa.” Dari ungkapan inilah, kata “Makassar” semakin dikenal sebagai simbol penyebaran Islam di wilayah Sulawesi Selatan.

Makassar dalam Catatan Majapahit

Nama Makassar juga tercatat dalam naskah kuno Negarakertagama karya Empu Prapanca, yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14–15).

Dalam naskah berbahasa Sanskerta itu, disebutkan sejumlah wilayah taklukan Majapahit di Sulawesi Selatan, di antaranya:

Bantaeng (Bantayang), Luwu (Luwuk), Talaud (Udayanakatraya), Makassar (Makasar), Buton (Butun), Banggai (Banggawi), Pulau Kunyit (Kunir), Selayar (Selaya), dan Solor (Solot) (Ensiklopedi Sejarah Sulsel: hal. 300).

Catatan ini menunjukkan bahwa nama Makassar sudah dikenal jauh sebelum Gowa-Tallo berdiri sebagai kerajaan kembar, dan telah menjadi wilayah penting sejak masa kejayaan Majapahit.

Menurut Abd Razak Dg Patunru, pada tahun 1320, pemerintahan di Gowa masih berpusat di bukit Tamalate, dipimpin oleh Tumanurung Bainea, yang membawahi sembilan kasuwiang atau wilayah, yaitu Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agangje’ne, Bisei, Kalling, dan Sero.

Saat itu, wilayah Makassar belum tercatat sebagai bagian dari Gowa, namun sudah dikenal sebagai wilayah pesisir yang ramai dan berbahasa Makassar.

Makassar dalam Karya Sastra La Galigo

Selain sumber sejarah, keberadaan Makassar juga ditemukan dalam karya sastra klasik La Galigo, karya epos terbesar Bugis-Makassar yang terdiri dari lebih dari 6.000 halaman.

Dalam naskah tersebut disebutkan tokoh Karaeng Tompo Daeng Mallino To Mangkasa, salah satu bangsawan Makassar.

Gelar “Karaeng” sendiri menandakan kebangsawanan, sementara “To Mangkasa” berarti orang Makassar.

Menurut Prof. A. Zainal Abidin Farid (hal. 172–173), kemunculan nama itu membuktikan bahwa Makassar telah menjadi entitas budaya dan politik penting sejak masa La Galigo.

Bangsa Portugis Berlayar ke Makassar

Orang Eropa pertama yang berlayar ke wilayah Makassar adalah bangsa Portugis, yang datang membawa misi 3G: God, Gold, dan Glory.

  • God berarti penyebaran agama Katolik,
  • Gold mencerminkan kepentingan ekonomi dan perdagangan rempah-rempah,
  • Glory menandakan ambisi bangsa Portugis sebagai pelaut dan penjelajah dunia.

Kedatangan Portugis ke Kerajaan Gowa terjadi setelah mereka merebut Malaka pada tahun 1511 di bawah pimpinan Jenderal Albuquerque.

Mereka kemudian mendengar kabar tentang Pulau Makassar yang kaya emas dan hasil bumi, sehingga pada 1523, Gubernur Portugis di Ternate Pedro d’Atande mengirim ekspedisi ke Makassar.

Ekspedisi itu berhasil mengkristenkan dua raja di Sulawesi Selatan, yakni Raja Suppa dan Raja Siang (Pangkajene).

Namun, upaya penyebaran agama Katolik tak bertahan lama karena mendapat perlawanan dari pedagang Melayu yang telah lebih dulu menyebarkan Islam di kawasan itu.

Pengaruh Portugis di Makassar

Makassar, Kerajaan Gowa, bugis makassar, Kerajaan Gowa Tallo, Budaya Makassar, asal usul Makassar, sejarah Makassar, legenda Makassar, Portugis di Makassar, sejarah Sulawesi Selatan, asal nama Makassar, Mengapa Disebut Makassar? dari Legenda hingga Catatan Majapahit, Legenda Dua Anak Raja, Makkasara dan Maugi, Versi Permaisuri Raja Gowa: I Daeng Mangkasara, Kerajaan Gowa-Tallo, Dua Raja Satu Rakyat, “Makkasaraki Nabbiya ri Butta Gowa”, Makassar dalam Catatan Majapahit, Makassar dalam Karya Sastra La Galigo, Bangsa Portugis Berlayar ke Makassar, Pengaruh Portugis di Makassar, Jejak Panjang Nama Makassar

Pantai Losari di Kota Makassar. Sulawesi Selatan diperkirakan akan menghadapi cuaca berawan hingga cerah berawan pada Rabu, 15 Oktober 2025.

Selain misi agama, Portugis juga membawa pengaruh budaya yang bertahan hingga kini.
Beberapa kata dalam bahasa Makassar berasal dari bahasa Portugis, seperti bendera, lantera, sepatu, kadera, dan pesta.

Dari segi kuliner, orang Makassar mengenal kue tradisional Apang Paranggi, yang berasal dari resep Portugis kuno. Bahkan, buah jambu batu dikenal masyarakat Makassar dengan nama Jambu Paratugala, yang berarti jambu dari Portugal.

Perkawinan campur antara orang Portugis dan wanita pribumi disebut Casado, dan menghasilkan keturunan yang kemudian berperan penting dalam pemerintahan.

Salah satunya adalah Francisco Mendes, anak dari perempuan Portugis dan bangsawan Gowa, yang kelak menjadi sekretaris kerajaan di masa Sultan Malikussaid. 

Sebelum kedatangan Portugis, pedagang dan ulama Melayu dari Pahang, Patani, Minangkabau, dan Aceh sudah lebih dulu datang ke Makassar sekitar tahun 1485.

Mereka memperkenalkan ajaran Islam dan perdagangan antarpulau, lebih dari satu abad sebelum Sultan Alauddin menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan.

Jejak Panjang Nama Makassar

Beragam sumber sejarah, legenda, dan sastra kuno menunjukkan bahwa nama Makassar bukan sekadar sebutan geografis, melainkan simbol peradaban yang telah hidup selama berabad-abad di Sulawesi Selatan.

Sebagaimana tertulis dalam Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan. 

“Nama Makassar bukanlah hal baru. Ia telah ada sejak zaman nenek moyang, berkembang dari suku, menjadi kerajaan, dan kini menjadi kota besar di timur Nusantara.”

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.