Meski Musim Hujan, Karhutla Masih Melanda Aceh, Riau, dan Kalteng
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, meskipun sebagian daerah saat ini berada dalam periode musim hujan.
Fenomena ini dilaporkan terjadi di Provinsi Aceh, Riau, dan Kalimantan Tengah sepanjang pertengahan Januari 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa laporan karhutla tersebut menunjukkan potensi kebakaran tetap ada, terutama di wilayah yang memiliki karakteristik lahan mudah terbakar.
"Kami masih menerima laporan kejadian karhutla di beberapa daerah, meski saat ini sebagian wilayah masih diguyur hujan," ujar Abdul Muhari di Jakarta, Sabtu (18/1/2026) dikutip dari Antara.
Bagaimana kondisi kebakaran lahan di Aceh Barat?
Salah satu kejadian karhutla dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, kebakaran pertama kali terpantau sejak Kamis (15/1/2026) di Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 1,5 hektare.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa hingga laporan terakhir diterima, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Tim gabungan yang terdiri dari unsur BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan upaya pemadaman serta pendinginan di lokasi terdampak.
Namun, proses pemadaman di Aceh Barat tidak berjalan mudah. Tim di lapangan menghadapi sejumlah kendala, antara lain angin kencang yang membuat api cepat merambat serta keterbatasan sumber air yang jaraknya cukup jauh dari lokasi kebakaran.
"Tim masih terus berjibaku melakukan upaya pemadaman dan pendinginan di lokasi terdampak," kata Abdul.
Apa langkah BPBD Aceh Barat di lapangan?
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat mengerahkan sedikitnya 16 personel untuk menangani kebakaran lahan di kawasan Ujong Beurasok, Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, mengatakan bahwa kebakaran tersebut diketahui sejak Kamis (15/1/2026) sore setelah masyarakat melaporkan adanya kepulan asap. Menindaklanjuti laporan itu, BPBD segera mengirimkan petugas ke lokasi untuk melakukan identifikasi.
Karena kejadian terdeteksi menjelang petang, upaya pemadaman tidak dapat dilakukan secara maksimal pada malam hari. Pemadaman baru bisa dilanjutkan secara optimal pada Jumat (16/1/2026).
"Saat ini upaya pemadaman masih terus kami lakukan," kata Teuku Ronal kepada ANTARA di Meulaboh, Jumat.
Ia menambahkan, kebakaran lahan tersebut berdampak langsung pada masyarakat sekitar. Kepulan asap dari lokasi kebakaran dilaporkan mengganggu pernapasan warga, selain menyebabkan kerusakan vegetasi tanaman dan berpotensi menjalar ke lahan lainnya.
"Api terus menjalar secara perlahan, pemadaman masih terus kami lakukan hingga saat ini," ujarnya.
Bagaimana situasi karhutla di Provinsi Riau?
Selain Aceh, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di Provinsi Riau. Berdasarkan laporan BPBD setempat, pada periode 1 hingga 16 Januari 2026 tercatat kebakaran lahan seluas 3 hektare di Kota Dumai dan 0,25 hektare di Kabupaten Siak. Dengan demikian, total luas lahan terbakar di Riau mencapai sekitar 3,25 hektare.
Abdul Muhari menyampaikan bahwa penanganan karhutla di Riau dilakukan melalui operasi darat oleh tim gabungan.
Fokus utama penanganan adalah memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke area sekitarnya, terutama pada lahan-lahan yang rentan terbakar.
Apa yang terjadi di Kalimantan Tengah?
Kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah. Api melalap lahan seluas sekitar enam hektare di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada Kamis (15/1) siang.
Menurut Abdul Muhari, berdasarkan laporan kondisi mutakhir, tim gabungan di wilayah tersebut telah berhasil mengendalikan dan menjinakkan kebakaran.
"Berdasarkan laporan kondisi mutakhir, tim gabungan telah berhasil menjinakkan kebakaran di wilayah tersebut," cetusnya.
Dengan adanya rangkaian peristiwa karhutla tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Abdul menegaskan bahwa potensi kebakaran masih cukup tinggi, terutama di wilayah dengan lahan gambut serta kawasan mineral terlantar yang rawan terbakar.
BNPB mengingatkan bahwa curah hujan yang masih terjadi tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran.
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang