Cerita Zinedine Zidane Soal Kepindahannya dari Juventus ke Real Madrid
Legenda sepak bola dunia asal Perancis, Zinedine Zidane, kembali mengenang perjalanan kariernya bersama Juventus dan momen penting yang mengantarkannya ke Real Madrid pada musim panas 2001.
Dalam ajang Festival dello Sport di Trento, Italia, Zinedine Zidane berbagi kisah tentang arti kemenangan, rekan setim, dan keputusan besar dalam hidupnya yang mengubah sejarah kariernya di dunia sepak bola.
Zinedine Zidane mengenang masa-masa awalnya ketika bergabung dengan Juventus dari Bordeaux pada tahun 1996 sebagai periode yang sangat berharga dalam kariernya.
Ia mengaku bahwa di klub asal Turin itulah ia belajar arti sebenarnya dari kemenangan dan konsistensi.
“Itu adalah pengalaman yang luar biasa. Ketika saya datang dari Perancis, sepak bola di sana memang bagus, tetapi tidak sebaik di Juve," jelas Zidane dikutip dari Football Italia.
"Saya mulai mengerti apa arti menang di sana, bahwa kami harus melakukannya terus menerus, bahkan ketika bermain tandang."
"Di Perancis, Anda bisa saja kalah saat tandang. Di Juve, tidak pernah,” lanjut eks pria asal Perancis itu.
Selama memperkuat Juventus, Zidane berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik dunia dan menjadi simbol kesuksesan Liga Italia pada akhir 1990-an.
Kedekatan dengan Gianni Agnelli dan Rekan Setim
Zidane juga mengenang hubungan personalnya dengan mendiang presiden Juventus, Gianni Agnelli, yang terkenal sangat memperhatikan para pemainnya.
“Hal yang mengesankan adalah ketika saya bermain baik, kami kembali pada pukul empat pagi,” tambah Zidane.
"Dia akan menelepon saya pada pukul enam, berbicara dalam bahasa Perancis dan memuji penampilan saya. Inilah yang menjadikannya seorang pria terhormat."
Selain itu, Zinedine Zidane juga memuji mantan rekan setimnya, Alessandro Del Piero, yang menurutnya adalah salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Italia.
Mantan pemain sepak bola Italia Alessandro Del Piero sebelum menyaksikan pertandingan sepak bola Liga Champions antara Juventus vs Benfica di Stadion Allianz di Turin, Italia, pada 29 Januari 2025. (Photo by Marco BERTORELLO / AFP)
“Dia adalah pemain yang sangat baik, salah satu yang terkuat yang pernah dimiliki Italia," ungkapnya.
"Saya beruntung bisa bermain bersamanya selama beberapa tahun, dan banyak pemain hebat lainnya, seperti Padovano, Vieri, Boksic. Namun, Alex memiliki sesuatu yang istimewa."
Alasan Juventus Gagal Menjuarai Liga Champions
Meski Juventus saat itu menjadi tim yang sangat kuat di Eropa, Zidane mengakui bahwa memenangkan Liga Champions bukanlah hal yang mudah.
“Liga Champions itu sulit, sulit untuk mencapai akhir. Kami sudah dua kali mencapai final dan kalah," imbuh Zinedine Zidane.
"Itu tergantung pada klub, apa yang ingin dicapai, karena jika Anda ingin menang, Anda perlu banyak hal yang siap dan dukungan dari klub."
Momen Serbet dan Kepindahan ke Real Madrid
Salah satu bagian paling menarik dalam kisah Zidane adalah bagaimana kepindahannya ke Real Madrid berawal dari pertemuan tak terduga dengan presiden klub, Florentino Pérez.
“Kami berada di sebuah gala dinner di Munich. Florentino ada di sana, bersama 30 atau 40 orang lainnya. Dia memberikan saya sebuah serbet dengan tulisan di atasnya, menanyakan apakah saya ingin bergabung dengan Real. Saya berpikir, jika saya tidak pergi sekarang, saya akan tetap di Juve selamanya,” ujar Zidane.
Keputusan itu menjadi titik balik dalam kariernya. Di Real Madrid, Zidane mencapai puncak kejayaan—termasuk mencetak gol ikonik di final Liga Champions 2002 yang hingga kini masih dikenang para penggemar sepak bola dunia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.