Harga Cabai Merah Keriting Tembus Rp 70 Ribu/Kg di Pasar Slipi Jakarta
Pasar Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, mencatat lonjakan harga cabai merah keriting dan bawang merah pada Kamis (9/10/2025), naik lebih dari Rp 10.000 dibandingkan harga beberapa hari sebelumnya.
"Yang naik bawang merah sama cabai keriting. Cabai merah keriting Rp 70 ribu, bawang merah yang sudah dibersihkan Rp 50 ribu,” ujar Sri (62), pedagang sayur di Pasar Slipi, seperti dikutip Antara, Kamis (10/10/2025).
“Kalau yang abal-abal (masih pakai kulit) Rp 45 ribu per kg," imbuhnya.
Sebelum kenaikan, harga cabai merah keriting berada di kisaran Rp 45 ribu-Rp 50 ribu per kg, sementara bawang merah masih fluktuatif antara Rp 45 ribu-Rp 50 ribu per kg.
Sri menyebutkan, naiknya harga cabai dan bawang dipengaruhi oleh cuaca ekstrem serta berkurangnya pasokan bahan baku.
"Pasokan kalau sekarang sedikit berkurang," kata Sri.
Berdasarkan laman Informasi Pangan Jakarta, Kamis, pukul 19.30 WIB, harga cabai merah keriting mencapai Rp 68.876 per kg.
Sedangkan, cabai merah besar Rp 62.977 per kg, dan bawang merah Rp 47.871 per kg.
Tren kenaikan harga bawang merah tercatat di beberapa wilayah Jakarta, termasuk Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan.
Sementara, harga cabai merah keriting meningkat di semua wilayah Jakarta, kecuali Jakarta Selatan.
Sri, yang telah berjualan sayur mayur di Pasar Slipi sejak era 1980-an, mengaku terus berinovasi agar pendapatannya tidak tergerus akibat kenaikan harga komoditas pangan.
Pengalaman menghadapi penurunan omzet selama pandemi Covid-19 membuatnya terbiasa mencari solusi kreatif, salah satunya dengan menyediakan layanan pesan antar sayur-mayur ke konsumen.
"Saat pandemi (Covid-19), omzet merosotnya jauh, bisa 60-70 persen. Kalau saya, saya biasa online-in, saya antar-antar gitu," jelasnya.
Sri menegaskan bahwa harga barang yang dijual secara daring maupun di pasar fisik tidak dibedakan.
Ia melayani semua pesanan karena ingin memastikan pembeli tetap terpenuhi kebutuhan sayur dan rempah harian mereka, sekaligus menjaga penghasilan.
"Orang beli Rp 50 ribu saya kejar, saya antar. Karena dia butuh sayur, saya butuh uang," ujar Sri.
Selain berjualan sayur, Sri juga menceritakan pengalamannya mencoba usaha kue kering, tetapi gagal karena sepinya pembeli.
Ia berharap kondisi pasar tradisional yang lesu bisa segera membaik, dan pemerintah turut memberi dukungan agar pedagang tidak lagi khawatir menghadapi ketidakpastian ekonomi.
"Saya biasa jual sawi 20 kilogram sehari, sekarang 5 kilogram saja susah," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.