Keindahan Kota Namwon di Korea Selatan dan Seni Tradisi Pansori Yang Masih Terjaga
Keindahan Kota Namwon, Korea Selatan tidak diragukan lagi, jembatan yang indah dan jalanan yang bersih menunjukkan kota yang benar benar terjaga.
Gunung gunung yang hijau di Namwon dengan bangunan yang rapi berjejer di bawahnya, sungguh sangat indah dan memanjakan mata.
Menginap di Kensington Resort, membuat Kompas.com dan rombongan makin betah berada di kota yang sepi ini. Kata warga di sana, sebagian warga Namwon lebih banyak berada di Kota Busan dan di pusat Kota Korea di Seoul.
Sepanjang jembatan di Namwon bergantung lampion dan bendera warna warna, belum lagi jalanan yang sangat bersih. Bahkan, tiap pagi mobil penyedot debu bergerak di sepanjang jalan Namwon.
"Pemandangan ini tidak ada di Indonesia apalagi di Lombok, mobil penyedot debu selalu tiba di pagi hari, " kata Alamsyah, warga Lombok yang berkunjung ke Namwon bersama rombongan.
Pertama kali tiba di Namwon, Minggu (21/9/2025) dan menghabiskan waktu sepekan di Korea membuatnya kagum melihat kota yang bersih.
"Ini seperti Sembalun, cuma lebih moderen karena banyak bangunan dan gedung gedung apartemen. Cuma udaranya suasananya mirip Sembalun di Lombok, " katanya sambil memotret beberapa titik di Namwon dari hotel tempatnya menginap.
Seni tradisi pansori yang terjaga
Di Namwon Kompas.com juga berkunjung ke Eksebition Hall Of Namwon Classical music 's Holy Shrines yang sangat mengagumkan.
Halaman Holy Shines yang luas dengan rumput hijau dan bunga teratai yang tertata rapi dengan warna merah marun dan daunnya hang hijau tua keunguan, menambah kesyahduan tempat itu.
Pengelola kemudian mengajak kami memasuki sebuah studio mini, dan mereka menggelar pertunjukkan Pansori.
Kami diminta duduk lesehan, sementara dua seniman pansori telah siap, seorang perempuan dengan makeup khas korea mengenakan pakaian tradisional hanbok yang menawan. Di sebelahnya, duduk seorang laki laki penabuh gendang.
"Pansori ini adalah musik tradisional Korea yang masih dipertahankan hingga kini, penyanyi Pansori biasa disebut sorikun dan penabuhnya adalah gosu," kata Shinwa Hong, salah seorang staf yang menemani para undangan resmi CICS (Center For Intengable Cultural Studies) di Namwon, termasuk Kompas.com bersama Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) dari Lombok Indonesia.
Dalam pertunjukkan sederhana dan singkat itu, sorikkun menyanyikan kisah kisah tentang berbagai keindahan perilaku dan tata krama dan moral warga Korea di jaman Dinasti Joseon.
Inilah Seni Tradisi Pansori, yang ditampilkan di Eksebition Hall Of Namwon Classical music 's Holy Shrines yang sangat mengagumkan.
Shinwa menjelaskan bahwa cerita cerita tentang nilai nilai moral, kebaikan, kesetiaan dan percintaan. Semua terangkum dalam 5 lagu Pansori (Pansori Madang).
Shinwa mengatakan bahwa Pansori adalah seni tradisi yang ditinggalkan leluhur dan merupakan warisan luar biasa bagi rakyat Korea.
"Pansori merupakan warisan budaya lisan dan nonbendawi manusia, dan 7 November 2023 telah didaftarkan sebagai karya agung warisan budaya di UNESCO, " kata Shinwa.
Dari data yang dihimpun Kompas.com saat berkunjung ke Eksebition Hall Of Namwon Classical music 's Holy Shrines, bahwa Pansori muncul dari kalangan rakyat kelas bawah di masa Dinasti Joseon pada akhir abad 17 (1690-an).
Mereka mementaskan Pansori ditempat tempat terbuka di pusat pusat keramaian yang disebut nori-pan atau kelompok kelompok penghibur kelana yang menampilkan berbagai seni pertunjukan.
Belakangan, genre musik pansori memisahkan dari dari beragam kesenian, dan kemudian seni tradisi Pansori dipentaskan tidak hanya pada rakyat jelata tetapi juga pada kelompok bangsawan dan raja raja.
Pansori yang hampir punah saat penjajahan Jepang
Yang paling penting dari sejarah Pansori, adalah saat zaman penjajahan Jepang di Korea. Saat itu, Pansori dilarang dan hampir punah.
Pelestarian dilanjutkan lewat cara yang sangat luar biasa, dimana para seniman Pansori menghapal semua isi buku Pansori dengan menceritakan kembali pada masyarakat.
Dan hingga kini kesenian itu masih tetap ada karena jasa penghafal Pansori. Selain diajak menikmati musik dan lagu Pansori, Kompas.com juga diajak keliling melihat galeri musik tradisional peninggalan Dinasti Joseon.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.