Respons Dualisme Federasi Olahraga, Erick Thohir: Musyawarah dan Mufakat!
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir menyoroti kabar dualisme sejumlah federasi olahraga di Indonesia.
Erick Thohir menegaskan bahwa penyelesaian persoalan dualisme federasi di sejumlah cabang olahraga akan mengedepankan musyawarah dan mufakat.
"Ya bangsa kita mendidik kita bagaimana musyawarah dalam mufakat. Itu jalan terbaik," ujar Erick Thohir dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Komentarnya ini terkait isu dualisme yang melibatkan beberapa cabang olahraga yaitu tenis meja, tinju, hingga berkuda.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sebelum berbicara undang-undang, ia menegaskan perlunya musyawarah dan mufakat sebagai jalan awal.
"Kenapa kita menjadi satu bangsa besar hari ini. Tetapi landasannya harus ada. Undang-undangnya harus ada.Tapi bukan berarti undang-undang itu sebagai alat untuk menggebuk. Itu kan."
"Nah, musyawarah dan mufakat itu yang didahulukan. Baru landasan hukumnya dijalankan. Kita harus bicara komunikasi," tegasnya.
Rangkul Seluruh Pihak
Erick Thohir mengetahui kabar tersebut saat berkunjung ke KOI. Ia memastikan akan terus berkomunikasi termasuk dengan KONI untuk membahas masalah dualisme.
"Saya kemarin datang ke KOI, kita bicara mengenai si games isunya seperti ini. Nanti saya akan ke koni juga. Akan bicara sama," ucapnya.
Erick Thohir juga mengkhawatirkan jika keberadaanya justru tidak dianggap dan mempersulit upayanya untuk menyelesaikan dualisme.
"Dan sangat sedih kalau mereka memandang saya bukan bagian dari olahraga nasional. Oh saya sedih. Kayaknya saya sudah berjibaku di olahraga sejak tahun 90-an. Jadi saya bukan orang lain."
"Kalau saya sebagai keluarga besar olahraga, mereka menutup pintu, ah berarti ada yang salah. Orang kami saja di Kemenpora berintrospeksi diri hari ini. Nah, kenapa mereka tidak mau itu? Berarti kan ada yang salah," jelasnya.
Rencana Presiden Prabowo Subianto
Upaya yang dilakukan selaras dengan Perpres nomor 12 tahun 2025 tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2025 sampai 2029.
Salah satu aspek yang harus dibentuk adalah pengembangan organisasi olahraga yang harus berstandar internasional.
"Dan kembali, Bapak Presiden sudah bicara. Evaluasi dan transformasi total. Nah ini saya rasa menjadi bagian penting buat semua."
Karena alsan itu, ia meminta agar semua pihak menanggalkan ego dan mengutamakan kepentingan atlet dan prestasi.
"Bisa menselaraskan, meninggalkan semua ego sektoral, meninggalkan kepentingan. Kita dahulukan yang tadi, yang namanya atlet dan prestasi di depan. Kita sebagai supporting system. Itu yang kita lakukan."
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.