Rupiah Melemah Saat Pasar Ragu Efektivitas Kucuran Rp 200 Triliun ke Himbara

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Ilustrasi mata uang Rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.578 per Jumat, 19 September 2025. Posisi rupiah itu tercatat melemah 80 poin, dari kurs sebelumnya di level Rp 16.498 pada perdagangan Kamis, 18 September 2025.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 22 September 2025 hingga pukul 09.19 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 16.601 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 74 poin atau 0,45 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.527 per dollar AS.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim mengatakan, ketidakpastian ekonomi global saat ini masih tinggi, imbas dari kebijakan perang tarif Amerika Serikat yang dampaknya makin buruk bagi perekonomian dunia.

Berbagai indikator menunjukkan perlambatan ekonomi di sebagian besar negara, disertai disparitas pertumbuhan antar negara. Perlambatan itu, mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat serta meningkatnya pengangguran.

"Dengan ketidakpastian ekonomi global, dikhawatirkan gebrakan Rp 200 triliun menteri Keuangan gagal untuk mengerek pertumbuhan ekonomi," ujar Ibrahim.

Saat ini, pengusaha masih gamang dalam memanfaatkan kredit perbankan. Apalagi perbankan sangat berhati-hati dalam menggelontorkan kredit untuk sektor riil lantaran masih rendahnya daya beli, cukup berisiko bagi pengusaha untuk mendorong ekspansi usahanya.

Sepanjang isu permintaan (kredit) tidak dicarikan solusi, dunia usaha tidak akan ekspansif. Sehingga menggelontorkan likuiditas perbankan sebesar itu tidak bisa membantu.

Walaupun, menteri keuangan sudah membantah isu demand kredit lemah menimbulkan pertumbuhan kredit lemah, “bahkan mengkritik ekonom perlu belajar lagi”.

Kebijakan dana pemerintah yang disimpan keperbankan akan meningkatkan pertumbuhan kredit seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2021, namun pasar tetap tidak percaya dengan pernyataan menteri tersebut karena kondisi 2021 berbeda jauh dengan 2025.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.600 - Rp 16.660," ujarnya.