Konser Muse di Jakarta: Lagu Hysteria dan Stockholm Syndrome Menghipnotis Penonton

Ancol, Jakarta, Muse, stockholm syndrome, konser Muse, Hysteria, Konser Muse di Jakarta: Lagu Hysteria dan Stockholm Syndrome Menghipnotis Penonton

Grup band asal Inggris, Muse, membuka konser di Carnaval Ancol, Jakarta Utara, Jumat (19/9/2025), dengan penampilan yang spektakuler.

Para penggemar langsung terhanyut dalam atmosfer konser yang penuh energi. Dalam konser tersebut, Muse membawakan sejumlah lagu ikonik, termasuk “Hysteria” dan “Stockholm Syndrome” yang menjadi favorit penggemar.

Pembukaan Konser dengan Lagu "Unravelling" dan "Hysteria"

Konser dibuka dengan “Unravelling”, diikuti dengan intro “Hysteria” yang langsung memikat penonton. 

Begitu permainan bass ikonik dari Chris Wolstenholme dimulai, suasana semakin meriah, dan penonton larut dalam tempo cepat yang disuguhkan. 

Suara teriakan histeris dari penggemar semakin menggema saat Muse mengalunkan lagu-lagu andalan mereka.

Vokalis utama, Matthew Bellamy, juga turut menyapa para penggemarnya. "Halo Jakarta!" teriaknya dari atas panggung, disambut dengan sorakan meriah dari ribuan penonton yang hadir.

Konser yang dimulai pukul 19.30 WIB ini merupakan kunjungan kedua Muse ke Indonesia, setelah tampil terakhir kali pada 23 Februari 2007. 

Gelaran ini juga menjadi bagian dari rangkaian acara menuju perayaan 20 tahun Hammersonic Festival 2026, salah satu festival musik rock dan metal terbesar di Asia Tenggara. 

Hammersonic 2026 juga telah mengumumkan My Chemical Romance (MCR) sebagai salah satu line-up utamanya.

Lagu-Lagu Populer Muse

Selain “Hysteria” dan “Stockholm Syndrome,” Muse dikenal dengan sejumlah lagu hit yang telah melambungkan nama mereka di dunia musik internasional. Berikut adalah beberapa lagu populer mereka:

1. “Supermassive Black Hole”

Dirilis pada 2006, lagu ini dikenal karena menjadi bagian dari soundtrack film Twilight. Dengan nuansa eksperimental, lagu ini menjadi salah satu karya paling populer dari Muse.

2. “Time Is Running Out”

Dirilis pada 2003 melalui album Absolution, lagu ini mengungkapkan perasaan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dan kecanduan emosional.

3. “Stockholm Syndrome”

 Masih dari album Absolution (2003), lagu ini mengacu pada sindrom psikologis di mana seseorang terikat pada pihak yang menyakitinya.

4. “Starlight”

 Dengan nuansa pop yang lebih kental, “Starlight” dirilis pada 2006 lewat album Black Holes and Revelations. Lagu ini mengisahkan kerinduan personal yang luas dalam maknanya.

5. “Hysteria”

Dikenal dalam album Absolution (2003), lagu ini menggambarkan obsesi tak terkendali terhadap sesuatu atau seseorang yang sulit didapatkan, memicu frustrasi dan perilaku kompulsif.

6. “Uprising”

Sebagai anthem perlawanan dari album The Resistance (2009), “Uprising” menyuarakan ketidakpercayaan terhadap para bankir, politisi, dan perusahaan global.

7. “Unintended”

Dirilis pada 1999, lagu akustik ini mengisahkan cinta yang tumbuh dari kebetulan meskipun situasi belum ideal.

8. “Madness”

Dengan sentuhan elektronik, “Madness” dari album The 2nd Law (2012) mengeksplorasi dinamika cinta dan konflik batin yang terjadi dalam hubungan.

9. “Knights of Cydonia”

Dari album Black Holes and Revelations (2006), lagu ini berbicara tentang perjuangan melawan kekuatan yang mencoba menekan dan memanipulasi individu.

10. “Psycho”

Lagu dari album Drones (2015), “Psycho” mengeksplorasi tema indoktrinasi dan kontrol militer terhadap individu.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas dengan judul dan Muse Konser di Jakarta, Ini 10 Lagu Populernya

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.