Dari Sampah Jadi Nilai Tambah, Ini 5 Cara Perkuat Ekosistem Daur Ulang

Ilustrasi sampah plastik.
Ilustrasi sampah plastik.

 Industri daur ulang plastik di Indonesia kini memegang peran penting dalam mendorong transisi menuju ekonomi sirkular sekaligus mengatasi persoalan pencemaran lingkungan. Sektor ini bukan hanya membantu mengurangi beban sampah plastik, tapi juga menciptakan lapangan kerja, menambah nilai material pascakonsumsi, hingga menekan emisi gas rumah kaca.

Data terbaru mencatat, ada 679 industri daur ulang plastik yang beroperasi dengan kapasitas nasional mencapai 3,16 juta ton per tahun pada 2024. Namun, pasokan bahan baku dalam negeri masih jauh dari cukup, hanya 1,2–1,4 juta ton per tahun, sehingga industri sering bergantung pada impor.

Lalu, apa saja langkah penting agar ekosistem daur ulang plastik bisa lebih kuat? Berikut 5 tips berdasarkan hasil kajian dan forum diskusi yang digelar Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) bersama pemerintah dan pelaku usaha.

Justin Wiganda Wakil Ketua Umum ADUPI

Justin Wiganda Wakil Ketua Umum ADUPI

1. Tutup Kesenjangan Pasokan dan Permintaan

Asisten Deputi Kemenko Perekonomian, Eripson M.H. Sinaga, menegaskan kesenjangan bahan baku adalah masalah utama.

“Industri daur ulang plastik menghadapi tantangan tersendiri dalam menjalani proses bisnisnya dan perlu perhatian kita bersama. Pertama, adanya kesenjangan antara pasokan dan permintaan, di mana industri daur ulang plastik saat ini sulit untuk memperoleh bahan baku plastik (recycle), terutama yang berkualitas dan bersih dengan tingkat impuritas yang rendah, agar hasil daur ulang ini memiliki kualitas tinggi dan secara tidak langsung dapat mengurangi penggunaan produk plastik dari bahan baku virgin,” jelas Eripson di Park Hotel Cawang, Jakarta, Senin 8 September 2025. 

2. Dorong Produk Ramah Lingkungan

Menurut Eripson, tren konsumen juga harus dimanfaatkan.

“Kedua, saat ini terdapat peluang dan tren untuk produk ramah lingkungan berbasis material daur ulang karena konsumen semakin peduli lingkungan dan mendukung produk berkelanjutan. Bisnis ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi dengan nilai tambah tinggi, tapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan positif dengan mengurangi sampah dan menghemat sumber daya alam,” bebernya. 

3. Perkuat Sistem Pemilahan Sampah

Wakil Ketua Umum ADUPI, Justin Wiganda, menekankan masalah utama justru ada di tahap awal rantai pasok.

“Jadi, barang-barang tersebut kalau sudah bisa di-collect dan disortir, itu akan menjadi bahan baku untuk industri daur ulang. Pada saat bahan-bahan tersebut tercampur, itu menjadi sampah. Nah, di Indonesia saat ini kesulitan terbesarnya adalah barang-barang tersebut, plastik-plastik itu tidak ter-collect dengan baik dan tidak tersortir dengan baik. Sehingga nantinya bahan baku impor tersebut akan dicampur dengan bahan baku lokal karena bahan baku lokal punya keterbatasan,” jelasnya.

4. Gunakan Data sebagai Dasar Kebijakan

Eripson menilai pentingnya kolaborasi berbasis data agar kebijakan tidak salah arah.

“Kami berharap kajian ini bukan sekadar menghasilkan angka, tetapi menjadi pijakan bersama untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan data yang akurat, kita dapat menutup kesenjangan pasokan, memberikan kepastian bagi industri, dan memastikan ekonomi sirkular benar-benar menjadi motor pertumbuhan industri hijau Indonesia. Harapan kami, hasil kajian ini menjadi fondasi langkah nyata pemerintah dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem daur ulang plastik yang berdaya saing, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas bagi perekonomian nasional,” katanya. 

5. Bangun Regulasi yang Mendukung Industri

Justin Wiganda menambahkan, regulasi harus berpihak pada penguatan industri.

“Kami berharap agar berbagai pihak dapat lebih memahami industri daur ulang ini. Jadi saya harapkan apa yang kajian-kajian ini juga menjadi dasar untuk mungkin peraturan-peraturan atau regulasi pemerintah yang bisa membantu industri daur ulang dalam membesarkan dan juga memperkuat industri ini. Dan yang paling penting, kita dapat membantu pemerintah dalam mengurangi sampah-sampah plastik tersebut,” tutup Justin.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan industri daur ulang plastik tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia.