Ketika Dunia Nyata dan Maya Bertemu, Kelahiran Kembali Ruang Seni yang Hidup
Di tengah derasnya arus digital dan perubahan cara kita berinteraksi dengan seni, muncul kerinduan akan ruang yang bisa mempertemukan manusia secara langsung bukan sekadar lewat layar. Seni kini tak lagi hanya soal kanvas atau patung, tapi juga tentang pengalaman, partisipasi, dan keterhubungan.
Di sinilah pentingnya ruang-ruang kreatif yang mampu menjembatani dunia nyata dan maya, menghadirkan dialog antara tradisi dan inovasi. Salah satunya hadir lewat Pasar Seni ITB.
Sejak digelar pertama kali pada 1972, Pasar Seni ITB dikenal sebagai salah satu festival seni paling ikonik di Indonesia. Festival ini mempertemukan seniman, akademisi, pelaku industri, hingga masyarakat luas, menjadikannya ruang interaksi budaya yang unik. Dengan sejarah panjang lebih dari lima dekade, Pasar
Seni ITB bahkan pernah mencatat rekor 600.000 pengunjung, menjadikannya salah satu festival budaya terbesar di Asia Tenggara. Setelah vakum lebih dari sepuluh tahun, festival ini kembali dengan energi baru.
Tahun 2025, Pasar Seni ITB menghadirkan pameran, pertunjukan, workshop, instalasi seni, serta lebih dari 200 booth kreatif lintas disiplin, dengan semangat tema “Setakat Lekat”. Tema ini merefleksikan realitas kontemporer, di mana batas antara dunia nyata dan maya semakin kabur dan saling melekat, membentuk pengalaman kolektif baru.
Salah satu pameran yang mencuri perhatian adalah instalasi kolaborasi Indofood dengan seniman, dosen, sekaligus alumni FSRD ITB, Budi Adi Nugroho. Instalasi ini menghadirkan bentuk visual serupa, namun dibedakan oleh warna utama tiap brand dan elemen khas Pasar Seni ITB.
Instalasi indomie
Sebut saja Indomie dengan merah, kuning, hijau ikonik melambangkan keberagaman rasa lintas generasi. Indomilk membawa warna khas Indomilk Your Way sebagai simbol energi dan budaya generasi muda. Chitato hadir dengan kuning cerah penuh keceriaan, mengekspresikan fun dan spontanitas anak muda. Keseluruhan instalasi menegaskan bahwa meski tiap brand punya karakter unik, semuanya berpadu harmonis dalam tema “Setakat Lekat” yang mencerminkan eratnya hubungan masyarakat, budaya, dan kreativitas.
Kolaborasi ini adalah bentuk dukungan kami terhadap perkembangan seni-budaya Indonesia, sekaligus mempererat kedekatan Indofood dengan generasi muda, keluarga, dan komunitas kreatif,” ujar Head of Consumer Engagement PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Fierman Authar dalam keterangan resminya.
Sementara itu, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan, pasar Seni ITB adalah ruang dialog antara seni, sains, teknologi, dan masyarakat. Kehadiran Indofood dengan instalasi kolaboratif ini menunjukkan bagaimana dunia industri dan akademisi dapat saling memperkaya.
Sementara itu, Budi ASdi Nugroho menambahkan, bahwa kolaborasi ini membuktikan bahwa seni bisa hadir di berbagai medium, bahkan melalui brand yang sudah akrab di keseharian.
”Saya ingin menghadirkan karya yang melekat di ingatan, sama tiga brand tersebut yang telah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia,” kata dia.