Dulu Peluang Karier Mentereng dan Gaji Gede, Kini Sarjana Ilmu Komputer Banyak yang Nganggur
Pasar kerja bagi lulusan perguruan tinggi saat ini semakin menantang. Banyak lulusan baru menemukan kenyataan bahwa memperoleh pekerjaan penuh waktu di bidang mereka tidak semudah yang dibayangkan.
Tidak hanya soal gaji yang kompetitif, tetapi juga peluang kerja yang terbatas membuat para lulusan baru harus lebih fleksibel dan kreatif dalam merencanakan karier mereka.
Data terbaru menunjukkan bahwa beberapa jurusan yang secara historis menjanjikan karier bergaji tinggi justru menghadapi tingkat pengangguran yang cukup tinggi. Sebagai contoh, lulusan ilmu komputer, yang selama ini dikenal sebagai jurusan yang membuka peluang karier menguntungkan, ternyata termasuk di antara jurusan dengan pengangguran tinggi.
Menurut data dari Federal Reserve Bank of New York, jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi adalah antropologi 9,4 persen, fisika 7,8 persen, rekayasa komputer 7,5 persen, seni komersial dan desain grafis 7,2 persen, serta seni rupa 7 persen.
Sebaliknya, beberapa jurusan yang justru menunjukkan performa yang sangat baik dalam hal kesempatan kerja. Jurusan nutrisi memiliki tingkat pengangguran paling rendah, yakni 0,4 persen, diikuti oleh jurusan layanan konstruksi 0,7 persen.
Ilustrasi pengangguran.
Jurusan pendidikan khusus, teknik sipil, dan ilmu hewan dan tumbuhan memiliki tingkat pengangguran hanya sekitar 1 persen. Tren ini menunjukkan bahwa jurusan dengan keterampilan yang lebih terdefinisi dan permintaan pasar yang jelas cenderung lebih stabil dibandingkan jurusan yang lebih umum atau teoretis.
Mengapa beberapa jurusan begitu kesulitan sementara yang lain berkembang pesat? Para ahli menjelaskan bahwa jurusan rekayasa komputer menghadapi pengangguran relatif tinggi karena industri mulai mengurangi belanja dan ekspansi sejak 2022.
Sementara itu, jurusan seni liberal atau humaniora seringkali memiliki pengangguran lebih tinggi karena kurangnya keterampilan khusus dan permintaan yang terbatas di pasar tenaga kerja. Di sisi lain, industri seperti kesehatan dan teknik telah menunjukkan pertumbuhan stabil dan peningkatan kesempatan kerja selama beberapa tahun terakhir.
Bagi lulusan baru, fleksibilitas dalam mencari pekerjaan menjadi kunci penting. “Untuk lulusan dengan jurusan yang terkait dengan tingkat pengangguran lebih tinggi seperti antropologi, seni rupa, atau desain grafis, kuncinya adalah tetap fleksibel dan fokus pada membangun keterampilan yang dapat dipindahkan,” kata Priya Rathod, editor tren tempat kerja di Indeed, sebagaimana dikutip dari Investopedia, Jumat, 31 Oktober 2025.
Ia menambahkan bahwa soft skills seperti komunikasi, pemecahan masalah, manajemen proyek, dan layanan pelanggan sering kali menjadi pembeda yang membuat lulusan baru tetap diminati di berbagai industri.
Tidak memiliki pengalaman penuh waktu di bidang kuliah bukan berarti halangan. Pengalaman magang, pekerjaan paruh waktu, pekerjaan freelance, dan kegiatan sukarela adalah cara yang berharga untuk memperkuat resume dan memperluas jaringan profesional, terutama di bidang yang lowongan entry-level-nya terbatas atau siklus perekrutannya lambat.
“Untuk semua lulusan perguruan tinggi, pekerjaan pertama setelah lulus tidak selalu menjadi ‘pekerjaan impian’ dan itu tidak masalah. Ingatlah, jurusan Anda adalah titik awal, bukan batasan,” ungkapnya.