Iran Bersiap Rayakan 'Kemenangan Besar', Wapres Singgung Akhir Tekanan Barat
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref menyebut Iran akan segera merayakan kemenangan besar melawan musuh-musuhnya sekaligus mengakhiri tekanan bertahun-tahun dan pencabutan sanksi yang selama ini dijatuhkan kepada negara itu.
“Rakyat Iran adalah pemenang dalam Perang Ramadan. Kami akan segera menggelar perayaan kemenangan, dan sanksi serta tekanan yang selama beberapa tahun terakhir dikenakan kepada bangsa Iran akan dicabut melalui kemenangan besar rakyat Iran,” kata Aref saat mengunjungi Islamic Republic of Iran Shipping Group dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 8 Mei 2026.
Perang Ramadan yang dimaksudkan oleh Aref merujuk pada agresi militer yang terjadi di Iran selama 40 hari sejak tanggal 28 Februari lalu ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran.
Pernyataan Aref soal kemenangan disampaikan dalam rangkaian kunjungannya ke sejumlah lembaga eksekutif, termasuk National Petrochemical Company, perusahaan pelayaran nasional Iran, dan Organisasi Pangan dan Obat-obatan. Dalam kunjungan itu, ia juga mengeluarkan perintah untuk membangun kembali industri-industri yang rusak akibat perang.
Saat bertemu pejabat National Petrochemical Company, Aref menegaskan pemerintah memiliki kepercayaan penuh terhadap kemampuan industri minyak Iran.
“Dengan berserah kepada Allah SWT dan mengandalkan kemampuan dalam negeri, tidak ada kekhawatiran terkait pembangunan kembali unit-unit yang rusak akibat perang paksa ketiga,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi upaya rekonstruksi kompleks petrokimia yang rusak.
“Laporan yang disampaikan direktur perusahaan menunjukkan proses pembangunan kembali berjalan baik dan mencerminkan upaya luar biasa para pelaku industri,” kata Aref.
Menurutnya, perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu fondasi utama pembangunan negara.
“Iran memiliki kapasitas besar di bidang sains dan teknologi, dan kita harus melanjutkan jalur pembangunan dengan mengandalkan kemampuan tersebut,” ujarnya.
Aref juga menekankan pentingnya meningkatkan kualitas unit-unit industri yang rusak selama proses rekonstruksi.
“Dalam proses pembangunan kembali, kita harus lebih mengandalkan teknologi dalam negeri. Meski kerja sama ilmiah dengan negara lain tetap berjalan, fokus utama harus pada kemampuan domestik,” katanya.
Selain itu, ia menyinggung pentingnya pertahanan pasif, yakni langkah untuk mengurangi kerentanan terhadap serangan militer tanpa terlibat dalam pertempuran langsung.
“Industri dan perusahaan harus menyiapkan berbagai skenario krisis sejak awal serta menentukan peran regional Iran secara jelas, terutama di antara negara-negara Islam,” ujarnya.
Aref menegaskan pemerintah berkomitmen membangun kembali dan meningkatkan fasilitas serta industri yang rusak akibat Perang Ramadan dengan teknologi paling mutakhir.
Ia juga mengunjungi Islamic Republic of Iran Shipping Group dan menerima laporan terbaru terkait perkembangan industri galangan kapal Iran. Menurut Aref, pemerintah mendukung penuh pengembangan armada perkapalan nasional.
“Iran memiliki sejarah panjang dalam industri pembuatan kapal selama berabad-abad,” katanya. “Kini kita harus mampu menghasilkan produk terbaik di bidang ini dengan memanfaatkan ilmuwan, para ahli, dan penguasaan teknologi modern.”
Terkait strategi Iran di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, Aref menyatakan bahwa wilayah tersebut sepenuhnya milik Iran.
“Selama beberapa tahun terakhir kami belum memanfaatkan anugerah strategis ini, tetapi sekarang kami telah mengambil keputusan untuk mengendalikan selat tersebut. Republik Islam Iran, dari sisi hukum internasional, strategi, dan ekonomi, telah memutuskan untuk mengelola Selat Hormuz. Pengelolaan ini dapat menjamin keamanan jalur perairan tersebut dan seluruh negara di kawasan,” ujarnya.
Aref menegaskan Iran tidak hanya mengejar pembangunan nasional, tetapi juga ingin menciptakan kondisi pasca-Perang Ramadan agar negara-negara kawasan bekerja sama dengan Iran sehingga wilayah tersebut bisa menjadi pusat ekonomi baru.
“Kami sepenuhnya siap bekerja sama dengan negara-negara tetangga di selatan dan menjaga keamanan kawasan,” katanya.
Dalam kunjungan ke Organisasi Pangan dan Obat-obatan, Aref menerima laporan terbaru mengenai kondisi sektor obat-obatan dan pangan.
Ia menuduh “musuh Amerika-Zionis” tidak menghormati nilai kemanusiaan karena menyerang pusat medis serta fasilitas produksi dan distribusi obat-obatan.
“Serangan itu bahkan menyebabkan gugurnya para syuhada yang membela negara,” ujarnya.
Meski begitu, Aref menyatakan yakin sektor farmasi Iran tetap dapat berjalan normal meski infrastruktur kesehatan menjadi sasaran serangan.
Ia memastikan produksi dan distribusi obat akan terus berjalan sesuai kebutuhan nasional melalui perencanaan yang tepat.
Aref juga memerintahkan pembentukan kelompok kerja khusus di sektor kesehatan untuk menangani kebutuhan farmasi nasional, menyelesaikan berbagai hambatan, dan melaporkan perkembangan secara rutin kepadanya.
Selain itu, ia memerintahkan rekonstruksi pusat-pusat medis serta fasilitas produksi obat yang rusak akibat Perang Ramadan.