PHK di RI Melonjak 32 Persen, Ini Sektor yang Paling Terpukul
Tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi dunia kerja di Indonesia. Data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat, memengaruhi pekerja di berbagai sektor dan wilayah.
Fenomena ini berdampak tidak hanya pada individu, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Hingga Agustus 2025, sekitar 58.000 orang kehilangan pekerjaan akibat PHK dari total pengangguran 7,46 juta orang. Laporan Kemnaker menunjukkan jumlah PHK meningkat dari 18.610 orang pada Januari–Februari, menjadi 44.333 orang pada Agustus 2025, naik sekitar 32,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berikut sektor-sektor paling terdampak, sebagaimana dirangkum pada Kamis, 6 November 2025.
Ilustrasi PHK
1. Manufaktur / Industri Pengolahan
Sektor manufaktur menjadi yang paling terdampak PHK sepanjang 2025. Banyak perusahaan menghadapi kesulitan keuangan, restrukturisasi, atau penutupan produksi. Salah satunya yang menghebohkan yakni, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Perusahaan tersebut melakukan PHK terhadap lebih dari 10.000 pekerja. Kemudian baru-baru ini, ada PT Victory Chingluh Indonesia di Tangerang, Banten, produsen alas kaki merk Nike, yang juga melakukan PHK terhadap ribuan pekerja.
2. Perdagangan Besar & Eceran
Sektor perdagangan besar dan eceran juga mengalami PHK akibat perubahan pola konsumsi, efisiensi biaya, dan restrukturisasi operasional. Pekerja di toko grosir, retail, dan distribusi menjadi yang paling terdampak. Laporan Kemnaker menunjukkan sektor ini mendominasi kasus PHK setelah manufaktur, terutama di kota-kota besar seperti DKI Jakarta.
3. Jasa
Sektor jasa, termasuk perhotelan, transportasi, dan layanan profesional, turut terdampak PHK sepanjang tahun 2025. Penurunan permintaan layanan dan penyesuaian biaya operasional menjadi faktor utama. Provinsi Jawa Tengah dan DKI Jakarta tercatat sebagai wilayah dengan PHK sektor jasa paling banyak dilaporkan.
4. Farmasi
Meskipun jumlahnya lebih kecil dibanding sektor lain, sektor farmasi juga mencatat PHK massal. PT Indofarma Tbk melaporkan PHK terhadap 767 karyawan sepanjang 2025 sebagai bagian dari penyesuaian organisasi perusahaan.
5. Rokok atau Tembakau
Sektor rokok dan tembakau juga terdampak PHK, meski masih dalam tahap verifikasi pemerintah. PT Gudang Garam Tbk di Tuban, Jawa Timur, menjadi salah satu perusahaan yang dilaporkan melakukan PHK massal pada tahun ini.
Angka-angka tersebut belum mencakup seluruh pekerja, terutama sektor informal, karena pelaporan yang belum lengkap. Sebagian besar PHK disebabkan oleh kondisi keuangan perusahaan, pailit, restrukturisasi utang, atau penutupan produksi.