Hampir 40 Persen Karyawan Pernah Menangis di Kantor, Ini Penyebabnya
Tekanan kerja di era modern tak lagi hanya soal target dan tenggat waktu. Ketidakpastian ekonomi, kekhawatiran pemutusan hubungan kerja, hingga beban emosional pribadi, ikut memengaruhi kondisi mental karyawan.
Hasilnya, tempat kerja kini bukan hanya ruang produktivitas, tetapi juga ruang luapan emosi.
Survei terbaru menunjukkan fenomena yang cukup mengejutkan. Hampir 40 persen karyawan mengaku pernah menangis di tempat kerja. Temuan ini memperlihatkan bahwa tekanan emosional di dunia kerja semakin nyata dan tak bisa lagi dianggap sebagai kasus individual semata.
Berdasarkan survei terhadap 1.018 orang dewasa di Amerika Serikat yang dipublikasikan oleh situs pembuat resume berbasis AI Resume Now, sebanyak 39 persen karyawan mengaku pernah menangis setidaknya sekali di tempat kerja. Rinciannya, 25 persen mengatakan mereka menangis satu atau dua kali, sementara 14 persen mengaku telah menangis beberapa kali.
“Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa tekanan emosional bukan lagi isu tempat kerja yang terisolasi, melainkan menjadi ciri utama pengalaman karyawan modern,” demikian bunyi laporan survei tersebut, sebagaimana dikutip dari Independent, Rabu, 25 Februari 2026.
“Survei ini mencerminkan tenaga kerja yang hadir secara fisik namun berjuang secara emosional, dengan implikasi terhadap produktivitas, moral, dan retensi jangka panjang.”
Survei juga mengungkap bahwa lebih dari setengah karyawan merasa cemas akan kehilangan pekerjaan mereka, bahkan tanpa adanya masalah kinerja atau alasan bisnis yang jelas. Sementara itu, hanya 27 persen responden yang merasa aman dengan posisinya dan tidak khawatir akan kehilangan pekerjaan.
Menariknya, secara historis tingkat pemutusan hubungan kerja relatif stabil sejak pandemi. Namun, data Federal Reserve yang diperbarui hingga Desember 2025 menunjukkan bahwa jumlah pekerja yang mengundurkan diri lebih tinggi dibandingkan periode mana pun antara Juni 2001 hingga Agustus 2017.
Bahkan, pada Desember 2025, tingkat pengunduran diri hampir dua kali lipat dibandingkan tingkat pemutusan hubungan kerja. Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidakpuasan mendasar di lingkungan kerja.
Tak heran, sebanyak 55 persen karyawan mengaku pernah meluapkan keluh kesah tentang pekerjaan mereka kepada rekan kerja, keluarga, teman, atau melalui media sosial.
Terlepas dari apa pun yang memicu momen menangis di kantor, ada sejumlah langkah perawatan diri yang dapat dilakukan karyawan, terutama setelah peristiwa traumatis seperti pemutusan hubungan kerja massal atau kejadian pribadi yang tak terduga.
Menurut layanan bantuan pribadi Universitas Duke, yang menyediakan dukungan kesehatan mental bagi dosen dan karyawan, langkah utama dalam perawatan diri adalah mengandalkan sistem pendukung dari orang-orang yang membuat Anda merasa nyaman dan aman untuk terbuka.
Rekan kerja, keluarga, dan teman biasanya menjadi bagian dari sistem pendukung ini. “Menerima dukungan dari rekan kerja, keluarga, dan teman biasanya membantu reaksi stres mereda dan berlalu lebih cepat,” tulis departemen tersebut.
Selain itu, karyawan juga disarankan untuk menjaga pola makan sehat secara teratur, memberi ruang bagi diri sendiri untuk tersenyum dan tertawa, serta menerapkan kebiasaan relaksasi seperti berdoa, latihan pernapasan, atau menghabiskan waktu di alam.
Jika mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan, bantuan profesional juga dianjurkan. “Kadang-kadang, peristiwa traumatis begitu menyakitkan dan terasa sangat berat sehingga bantuan profesional mungkin diperlukan.”