Cisco PHK 4.000 Pegawai Demi Kejar Cuan dari AI
Demam kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tampaknya benar-benar mengubah peta industri teknologi dunia. Perusahaan teknologi tak lagi sekadar berlomba membuat produk baru, tetapi juga mengalihkan investasi besar-besaran ke infrastruktur AI demi mengejar lonjakan permintaan pasar.
Di tengah tren tersebut, Cisco mengumumkan langkah besar berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir 4.000 pegawai. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan agar lebih fokus pada bisnis AI dan sektor pertumbuhan baru lainnya.
Pengumuman itu disampaikan Cisco pada Rabu, 14 Mei 2026 waktu setempat. Bersamaan dengan itu, perusahaan asal San Jose, California, Amerika Serikat tersebut juga menaikkan proyeksi pendapatan tahunan setelah permintaan dari perusahaan hyperscaler meningkat tajam.
CEO Cisco, Chuck Robbins, menilai perusahaan yang ingin bertahan di era AI harus berani memindahkan investasi ke sektor yang paling potensial. “Perusahaan yang akan menang di era AI adalah mereka yang memiliki fokus, bergerak cepat, dan disiplin dalam terus mengalihkan investasi ke area dengan permintaan dan potensi nilai jangka panjang paling besar,” kata Robbins, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis, 14 Mei 2026.
Cisco menyebut perusahaan kini memperbesar investasi pada teknologi silikon, optik, keamanan siber, hingga penggunaan AI di internal perusahaan. Sementara itu, beberapa posisi kerja di divisi tertentu mulai dikurangi.
PHK yang dilakukan Cisco diperkirakan mencakup kurang dari 5 persen total tenaga kerja perusahaan. Hingga Juli tahun lalu, Cisco memiliki sekitar 86.200 pegawai di seluruh dunia.
Restrukturisasi tersebut diperkirakan akan menelan biaya hingga US$1 miliar atau setara Rp17 triliun. Dari jumlah itu, sekitar US$450 juta atau sekitar Rp7,65 triliun akan dicatat pada kuartal keempat, sedangkan sisanya dibebankan pada tahun fiskal 2027.
Meski memangkas pegawai, bisnis AI Cisco justru sedang melesat. Perusahaan mengungkapkan telah menerima pesanan infrastruktur AI dari perusahaan hyperscaler senilai US$5,3 miliar atau sekitar Rp90,1 triliun sepanjang tahun fiskal berjalan.
Cisco bahkan menaikkan target total pesanan AI tahun penuh menjadi US$9 miliar atau sekitar Rp153 triliun, jauh lebih tinggi dibanding target sebelumnya sebesar US$5 miliar atau sekitar Rp85 triliun.
Lonjakan permintaan itu ikut mendongkrak saham Cisco. Dalam perdagangan setelah penutupan pasar, saham perusahaan naik lebih dari 16 persen. Sepanjang tahun 2026, saham Cisco juga sudah menguat sekitar 32 persen.
Analis menilai kondisi ini menunjukkan investasi AI kini tidak hanya berpusat pada chip semikonduktor, tetapi juga jaringan berkecepatan tinggi untuk mendukung pusat data skala besar.
Senior Vice President Product and Strategy Direxion, Ryan Lee, mengatakan pasar melihat lonjakan belanja perusahaan hyperscaler mulai berdampak ke sektor lain di luar produsen chip. “Meski perhatian publik kemungkinan akan tertuju pada sedikit penurunan jumlah karyawan, kenaikan saham setelah pasar tutup sebenarnya terjadi karena belanja modal perusahaan hyperscaler mulai mengalir ke sektor lain. Ini membuktikan bahwa investasi AI bukan hanya soal chip,” ujar Lee.
Permintaan terhadap produk jaringan Cisco memang meningkat tajam. Pada kuartal ketiga, pesanan produk jaringan tumbuh lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pesanan switching pusat data naik lebih dari 40 persen.
Dari sisi keuangan, Cisco mencatat pendapatan kuartal ketiga yang berakhir pada 25 April 2026 sebesar US$15,84 miliar atau sekitar Rp269,3 triliun. Angka tersebut melampaui perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan pendapatan sekitar US$15,56 miliar atau setara Rp264,5 triliun.
Melihat tren permintaan AI yang terus meningkat, Cisco kini memperkirakan pendapatan tahun fiskal 2026 berada di kisaran US$62,8 miliar hingga US$63 miliar atau sekitar Rp1.067 triliun sampai Rp1.071 triliun. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya.
Chief Financial Officer Cisco, Mark Patterson, juga optimistis bisnis AI perusahaan masih akan tumbuh kuat pada tahun depan. “Masuk akal untuk berharap pendapatan dari bisnis hyperscale AI bisa mencapai setidaknya US$6 miliar (atau sekitar Rp102 triliun pada tahun fiskal 2027),” kata Patterson.