Harga Bensin Makin Mahal, Thailand Dorong WFH hingga Minta Warga Tinggalkan Mobil Pribadi

Anutin Charnvirakul resmi dilantik menjadi PM Thailand
Anutin Charnvirakul resmi dilantik menjadi PM Thailand

Kenaikan harga energi global kembali menekan berbagai negara, terutama di Asia yang masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas. Dampaknya kini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari biaya transportasi yang meningkat hingga ancaman kenaikan harga barang.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara mulai mendorong langkah efisiensi energi. Salah satu langkah yang kembali digaungkan adalah kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), yang dinilai mampu mengurangi konsumsi bahan bakar dan listrik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pemerintah Thailand mengimbau masyarakat dan sektor swasta untuk bersama-sama melakukan penghematan energi. Imbauan ini disampaikan menyusul kekhawatiran dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.

Hal itu ditegaskan oleh Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul. “Saya juga meminta kerja sama seluruh warga dan sektor swasta untuk menghemat energi dengan cara yang sama, baik melalui WFH (work from home) atau WFA (work from anywhere), mengurangi penggunaan mobil pribadi dan beralih ke transportasi umum, berbagi kendaraan, serta menggunakan listrik secara bijak,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa, 7 April 2026.

Ia juga mengingatkan bahwa Thailand tetap berada dalam posisi rentan meskipun memiliki cadangan minyak yang cukup besar. “Meskipun Thailand memiliki cadangan minyak yang tinggi dibandingkan negara lain, kami tetap rentan sebagai negara yang mengimpor minyak dalam jumlah besar,” tambahnya. 

Pemerintah Thailand juga menyatakan siap mengeluarkan kebijakan tambahan untuk melindungi masyarakat dari dampak krisis energi yang semakin meluas.

Langkah serupa juga terlihat di berbagai negara Asia lainnya. Sri Lanka dan Filipina, misalnya, telah menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu bagi sebagian pegawai sektor publik. Sementara itu, Vietnam mendorong pegawai untuk bekerja dari rumah guna menekan konsumsi energi.

Sebelumnya, pemerintah Thailand telah lebih dulu mengurangi perjalanan dinas luar negeri bagi pegawai. Selain itu, pejabat diminta mengenakan pakaian lengan pendek tanpa dasi (kecuali untuk acara resmi) guna mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Dari sisi komoditas, Kementerian Perdagangan Thailand juga mengambil langkah pengendalian dengan memperketat ekspor minyak sawit mentah serta mengatur harga minyak sawit kemasan. Kebijakan ini bertujuan menjaga pasokan dalam negeri di tengah meningkatnya permintaan biodiesel.

Lonjakan harga energi terlihat dari kenaikan harga solar (diesel) yang kini menembus 50 baht per liter atau sekitar Rp26 ribuan, naik dari sekitar 30 baht per liter atau setara Rp15 ribuan pada akhir Februari (asumsi kurs Rp521 per baht). Kenaikan ini memberi tekanan pada petani serta sektor transportasi dan pariwisata.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Padahal, Thailand sedang bersiap menyambut festival Songkran, perayaan tahun baru tradisional yang biasanya mendorong lonjakan perjalanan dan wisata. Namun tahun ini, pelaku industri khawatir perayaan akan lebih sepi akibat mahalnya biaya perjalanan dan gangguan pada sektor penerbangan.

Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah Indonesia mengumumkan kenaikan biaya tambahan bahan bakar pesawat (jet fuel surcharge) sebesar 28 poin persentase. Selain itu, maskapai juga diizinkan menaikkan harga tiket domestik hingga 13 persen.