Di Balik Dilema Keluarga atau Karier, Retno Marsudi: Perempuan Bisa Pilih Keduanya

perempuan, Retno Marsudi, Retno, Di Balik Dilema Keluarga atau Karier, Retno Marsudi: Perempuan Bisa Pilih Keduanya

Perempuan bisa bertumbuh lewat banyak jalan. Lewat pendidikan, pekerjaan, keluarga, hingga ruang-ruang kecil yang memberinya keberanian untuk mencoba hal baru.

Ketika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat, perempuan dapat berkembang di bidang yang mereka sukai, bahkan melampaui batas-batas yang selama ini kerap dilekatkan pada mereka.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Tidak semua perempuan memiliki ruang yang aman untuk belajar, gagal, lalu bangkit kembali.

Bahkan, perempuan kerap dihadapkan pada tuntutan untuk memilih, dan tidak jarang harus rela mengorbankan salah satu bagian penting dalam hidupnya, antara keluarga atau karier.

Perempuan tak mesti memilih antara keluarga atau karier

Dalam acara Women’s Space yang digelar ParagonCorp di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta, Senin (20/4/2026), Retno Marsudi Menyoroti pertanyaan yang kerap dialamatkan kepada perempuan saat memasuki dunia kerja dan kehidupan berkeluarga.

“Kita perempuan selalu dihadapkan pada pertanyaan pada saat kita sudah dewasa, pada saat kita sudah sekolah, sudah lulus kuliah, lulus sekolah. Kita banyak sekali mendapatkan pertanyaan, kamu memilih karier atau memilih keluarga? Saya selalu bertanya dulu, apakah pertanyaan itu juga diajukan kepada laki-laki? Tidak pernah.”

Pernyataan itu menggambarkan realitas yang masih dekat dengan banyak perempuan hingga hari ini, yakni pilihan hidup yang kerap dipersempit menjadi dua kutub, seolah karier dan keluarga tidak bisa berjalan beriringan.

Padahal, pengalaman hidup Retno justru menunjukkan sebaliknya.

Saat memulai karier sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri, ia bekerja di lingkungan yang sangat didominasi laki-laki.

“Saya bekerja di human profesi yang didominasi oleh laki-laki. Jadi pada saat saya bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, diplomat perempuan itu maksimal hanya 10 persen,” ujar Retno.

Di ruang profesi seperti itu, tekanan pekerjaan datang tanpa batas waktu.

“Untuk diplomat, bekerja itu tidak ada batas ruang, tidak ada batas waktu," ungkap Retno.

Di tengah lingkungan kerja yang keras, ia merasa perlu membuktikan bahwa perempuan mampu menjalani peran profesional tanpa harus melepaskan kehidupan personalnya.

“Saya ingin membuktikan, sekali lagi tidak terlepas dari background saya, bahwa kalau bukan saya, tidak ada orang yang dapat mengubah hidup kami.”

Pengalaman itu menjadi semakin nyata ketika ia harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus profesional. Saat anak-anaknya masih kecil, hari-harinya dipenuhi perpindahan cepat antara rumah, sekolah, dan kantor.

“Anak saya berdua kecil-kecil, jadi kalau pagi itu sudah sekolah. Bawa anak-anak ke sekolah, kemudian ke kantor, terus pas break time, minta izin jemput anak,” kenangnya.

Bagi banyak perempuan, pengalaman semacam ini terasa sangat dekat, berpindah dari satu peran ke peran lain tanpa jeda, sering kali sambil tetap memikul ekspektasi untuk selalu terlihat mampu.

Namun bagi Retno, kehidupan memang tidak selalu ringan.

“Bahwa hidup itu kadang-kadang harus berat, harus dijalankan.”

Ia menggambarkan perjalanan itu seperti mengemudikan mobil, yakni ada saat untuk melaju, ada saat untuk mengerem.

kadang harus digas, kadang-kadang harus rem, mobil kan juga digas, tidak bisa digas terus, kalau digas terus pasti akan nabrak,” imbuhnya.

Metafora sederhana itu menjadi pesan kuat bahwa keseimbangan bukan berarti memilih salah satu, melainkan memahami kapan harus mendorong diri dan kapan memberi ruang untuk bernapas.

“Jangan dianggap susah atau berat, inilah kehidupan saya, saya jalani saja, dan juga jangan lupa mainin gas remnya,” sarannya.

perempuan, Retno Marsudi, Retno, Di Balik Dilema Keluarga atau Karier, Retno Marsudi: Perempuan Bisa Pilih Keduanya

Women?s Space yang digelar ParagonCorp di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta, Senin (20/4/2026)

Women’s Space, Ruang Aman yang Menumbuhkan Pemimpin Perempuan

Pesan yang disampaikan Retno Marsudi sejalan dengan kebutuhan banyak perempuan masa kini untuk memiliki ruang aman dalam bertumbuh.

Bukan hanya soal kesempatan, tetapi juga keberanian untuk melangkah di tengah keraguan yang kerap muncul dari dalam diri sendiri.

ParagonCorp juga menyoroti bahwa banyak perempuan memiliki keinginan untuk berkembang, namun masih dihadapkan pada keraguan diri.

dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, menyampaikan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar pengalaman personal, melainkan juga tercermin dalam berbagai temuan riset.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa mayoritas perempuan memiliki motivasi untuk berkembang, namun tidak semuanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup untuk melangkah. Sebagai contoh, riset Mestara (2025) menunjukkan bahwa 83 persen perempuan ingin berkembang, namun hanya sekitar 30 persen yang merasa cukup percaya diri untuk mengambil langkah tersebut,” ungkap Sari.

Temuan itu memperlihatkan adanya jarak antara keinginan untuk maju dan keberanian untuk benar-benar mengambil langkah pertama.

Menurut Sari, keraguan tersebut adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan dekat dengan pengalaman banyak perempuan.

“Sering kali perempuan terlihat tenang dan mampu, tetapi di dalamnya tetap ada pertanyaan: apakah saya sudah cukup? Saya juga pernah berada di titik itu. Namun saya belajar bahwa keraguan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dihadapi dan justru dari situlah kita bertumbuh, sekaligus tetap rendah hati,” imbuhnya.

Di titik inilah Women’s Space hadir sebagai ruang yang bukan hanya aman, tetapi juga suportif untuk perempuan belajar menerima proses bertumbuhnya.

Sejak dimulai pada 2023, Women’s Space telah menjangkau lebih dari 10.000 perempuan melalui roadshow di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, dan Makassar.

Lebih dari 1.000 peserta kini tergabung aktif dalam komunitas yang dirancang sebagai wadah perempuan penggerak Indonesia untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan, meningkatkan keterampilan yang relevan, serta membangun jejaring dalam ruang yang suportif.

Terinspirasi dari kisah B. J. Habibie dan Hasri Ainun Besari, sesi ini juga menekankan pentingnya dukungan dan relasi dalam perjalanan perempuan.

Bahwa pada akhirnya, tidak ada perempuan yang benar-benar bertumbuh sendirian.

Ada ruang yang menopang, ada relasi yang menguatkan, dan ada komunitas yang membantu perempuan menemukan keberanian untuk terus melangkah.

Women’s Space hadir dengan tujuan menumbuhkan perempuan-perempuan pemimpin yang tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu menciptakan dampak berkelanjutan bagi keluarga, komunitas, hingga generasi berikutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang