4 Strategi Bagi Ibu Bekerja Jalani Peran Ganda, Karier Melesat dan Keluarga Tetap Hangat

Ide bisnis dari rumah
Ide bisnis dari rumah

Peran ibu bekerja bukan lagi hal yang asing. Fenomena ini kian lumrah seiring meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja yang mencerminkan perubahan sosial yang lebih inklusif.

Tidak banyak yang sadar bahwa ibu bekerja menyimpan tantangan berat karena tuntutan profesionalisme di kantor sering kali berjalan beriringan dengan ekspektasi penuh di rumah. Tidak jarang, ibu harus berpacu dengan waktu, energi, dan emosi agar kedua peran tersebut tetap berjalan seimbang tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas relasi keluarga.

Tantangan Nyata Ibu Bekerja di Era Modern

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah tenaga profesional perempuan di Indonesia telah mencapai 50 persen atau meningkat sekitar 2 persen dibandingkan tahun 2020. Angka ini menegaskan bahwa perempuan, termasuk para ibu, memiliki kontribusi signifikan dalam perekonomian dan pembangunan nasional.

Ilustrasi Ibu Bekerja

Ilustrasi Ibu Bekerja

Psikolog Cecilia Helmina E., M.Psi., mengungkapkan tantangan ibu bekerja tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia menegaskan tekanan yang dirasakan ibu bekerja cenderung lebih besar dibandingkan ayah, khususnya dalam menyeimbangka peran di rumah dan di kantor.

“Tantangan utama dari seorang ibu bekerja adalah menyeimbangkan pekerjaan dan waktu bersama keluarga," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis pada Jumat, 23 Januari 2026.

Pandangan Cecilia didasari salah satu studi dari University of Pennsylvania yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan para ayah, para ibu merasakan adanya tekanan yang jauh lebih besar saat bekerja. Alasannya ibu harus berusaha lebih keras untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan urusan rumah, termasuk pengasuhan anak.

4 Strategi Praktis Menjaga Keseimbangan

Untuk membantu ibu bekerja menghadapi tantangan tersebut, Cecilia membagikan tiga strategi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Jangan Ragu Meminta Bantyuan

Pertama, terkait urusan rumah tangga, ibu tidak perlu ragu meminta bantuan. “Untuk urusan rumah, mintalah bantuan ke orang lain atau tenaga profesional jika dibutuhkan," kata Cecilia.

Ia juga menyarankan sebaiknya melakulan diskusikan secara terbuka dengan pasangan dan keluarga di rumah. Baik untuk berbagi tugas sehingga pekerjaan rumah tidak terbengkalai. 

2. Bangun Interaksi yang Berkualitas

Dalam hal pengasuhan anak, kualitas interaksi menjadi kunci utama. Menurut Cecilia, kehadiran ibu yang utuh jauh lebih penting dibandingkan durasi kebersamaan.

“Kualitas interaksi tidak ditentukan oleh seberapa sering dan banyaknya waktu bersama ibu, tetapi kehadiran ibu yang seutuhnya saat bersama anak. Usahakan untuk tidak melakukan pekerjaan kantor di rumah, dan biasakan untuk ngobrol sebentar saat makan bersama atau sebelum anak tidur,” jelas Cecilia.

3. Tetapkan Batasan yang Jelas

Cecilia menekankan perluny ibu menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Rutinitas sederhana seperti berbincang ringan sebelum anak tidur atau makan bersama tanpa distraksi gawai dapat membantu anak merasakan kehadiran emosional ibu secara penuh.

4. Cari Kantor yang Mendukung Peran Ibu Bekerja

Upaya menjaga keseimbangan peran ibu bekerja juga sangat dipengaruhi oleh dukungan lingkungan kerja. Unicharm menjadi salah satu contoh perusahaan yang menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan dan karier perempuan dengan menciptakan ekosistem yang ramah bagi kaum Hawa.

Direktur Unicharm, Sri Haryani, menyampaikan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia, khususnya karyawati. Ia menjelaskan, perusahaan menyiapkan berbagai program pelatihan untuk mendukung pengembangan karier perempuan. 

"Untuk mendukung pengembangan karir, kami menyiapkan berbagai program pelatihan untuk mengembangkan talenta unggulan yang akan memimpin perusahaan di masa depan. Program pelatihan ini tidak hanya berfokus pada soft skill dan hard skill, tetapi juga jiwa kepemimpinan yang dibutuhkan sebagai seorang leader di masa depan,” lanjutnya.

Selain itu, perusahaan juga membuka ruang berbagi pengalaman antar karyawati lintas generasi. Di mana karyawati yang saat ini menempati posisi eksekutif dapat berbagi pengalaman dan cerita kesuksesan untuk memotivasi para karyawati generasi muda.

Langkah-langkah tersebut selaras dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya terkait kesetaraan gender dan pekerjaan layak. Sri Haryani menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan perwujudan dari nilai inti perusahaan.

“Kami percaya bahwa semua orang memiliki keunikan masing-masing dan potensi yang tak terbatas. Oleh karena itu, perusahaq secara proaktif memberikan berbagai kesempatan dan edukasi, termasuk kepada karyawati perempuan, agar mereka dapat mengembangkan potensi tak terbatas yang dimiliki,” jelas Sri.

Pada akhirnya, keseimbangan antara peran ibu di rumah dan profesional di kantor bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang menemukan ritme yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga. Dukungan pasangan, keluarga, lingkungan kerja, serta kebijakan perusahaan yang inklusif menjadi faktor penting dalam membantu ibu bekerja menjalani peran gandanya dengan lebih sehat dan berkelanjutan.