Perusahaan Manufaktur di Nganjuk Olah Sampah Kain Jadi Produk Tekstil, Ekspor ke 32 Negara
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, menyampaikan perusahaan tidak menggunakan pakaian bekas dalam proses daur ulang. Sebaliknya, bahan baku utama berasal dari sisa produksi industri tekstil yang dikumpulkan dari lebih dari 100 UKM dan pengepul kecil di sekitar area pabrik.
“Berbeda dengan recycle plastik atau kertas, kami mengolah kain sisa produksi, bukan dari baju bekas,” ujar Yanto saat kegiatan kunjungan kerja Kementerian Keuangan ke pabrik Mitra Saruta di Nganjuk pada Kamis, 16 April 2026.
Yanto mengatakan, saat ini perusahaan memiliki 32 unit mesin untuk melakukan proses daur ulang end to end dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 ton per hari. Dari total produksi tersebut, sekitar 1.000 ton diolah menjadi produk jadi seperti sarung tangan, kain rajut, dan pakaian sementara sisanya diekspor dalam bentuk benang dan sarung tangan.
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia Hoo Yanto Andrian
Pasar ekspor pertama yang dijajaki perusahaan manufaktus asal Nganjuk ini adalah Jepangyang hingga kini masih menjadi pasar utama. Tujuan eskpor lainnya meliputi Amerika Serikat, Rusia dan puluhan negara lain.
“Setiap bulan hampir 100 kontainer kita ekspor,” beber Yanto.
Ia menambahkan, benang hasil produksi juga menjadi alternatif penting, terutama saat kondisi krisis, karena fleksibel digunakan oleh berbagai pelaku usaha. “Belakangan ini UKM dan perajin semakin kreatif mengembangkan produk dari benang, sehingga menghasilkan produk tekstil yang lebih variatif,” katanya.
Perjalanan PT Mitra Seruta dimulai 36 tahun lalu sebagai industri kecil dengan sekitar 20 mesin. Kini, perusahaan telah berkembang pesat dengan 1.700 karyawan dan didukung mesin otomatis modern untuk meningkatkan efisiensi produksi berkat suntikan modal dari Lembaga Pembiayaan Expor Indonesia (LPEI).
Kepala Divisi Nia & Strategic Assignment LPEI, Berlianto Wibowo menegaskan, pemberian modal terhadap pejuang eskpor, mencerminkan peran LPEI sebagai salah satu kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal memberikan dukungan pembiayaan baik untuk modal itu sendiri maupun investasi pembelian mesin-mesin operasional. Dengan begitu, pelaku usaha yang berorientasi ekspor memiliki ruang lebih untuk mempeluas pangsa pasar global.
"Pemberian modal kepada pejuang ekspor seperti Pak Yanto merupakan wujud kehadiran negara dalam mendukung ekspor. Kami siap memberikan dukungan untuk para pejuang ekspor untuk meningkatkan pemodalan dan melakukan ekspansi usaha,” tegasnya.
Selain itu, insentif pajak juga menjadi dorongan penting bagi keberlangsungan industri. Yanto mengaku program Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (PPh21 DTP) sangat membantu perusahaan dan karyawan.
“Saya mewakili karyawan mengucapkan banyak terima kasih atas program ini,” ujarnya.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Inge Diana Rismawanti, menjelaskan program insentif PPh 21 DTP ini kembali dilanjutkan pada tahun 2026 dengan Pagu Anggaran yang lebih besar setelah realisasi tahun sebelumnya belum optimal. Tahun ini, kata Inge, pemerintah menyisihkan hampir Rp 500 miliar.
"Harapannya bisa dimanfaatkan maksimal oleh pelaku usaha hingga akhir tahun,” ucap Inge.
Yanto turut mengapresiasi perbaikan infrastruktur di Kabupaten Nganjuk sehingga mempelancar distribusi logistik. Menurutnya, kondisi jalan di Nganjuk kini jauh lebih baik dibandingkan saat awal relokasi pabrik.
“Dulu jalan masih sempit, sekarang sudah lebar dan beraspal, sehingga mempermudah keluar-masuk barang,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, mempertegas berbagai perbaikan infrastruktur yag dilakukan Pemerintah Jawa Timur sebagai upaya agar industri tetap hidup. Apalagi sektor manufaktur menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur. Ia mencatat sektor ini menyumbang 31,32 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) Jawa Timur.
“Kita berharap bahwa manufaktur terus menjadi tumpuan ekonomi. Inilah yang diinginkan oleh Presiden, Inilah yang kemudian disampaikan oleh para ekonomi. Bagaimana agar sektor manufaktur jangan sampai Indonesia mengalami de-industrialisasi,” tutur Emil Dardak.
Ke depan, Yanto berharap perusahaannya terus berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar bagi ekspor nasional. “Kami ingin terus tumbuh dan memberikan kontribusi bagi ekspor Indonesia,” ucapnya.