LPEI Disuntik Modal Rp51 Miliar, Produsen Biskuit Gresik Tembus Ekspor ke 55 Negara

Proses Produksi Biskuit di PT Mega Global Food Industry (Kokola Grup)
Proses Produksi Biskuit di PT Mega Global Food Industry (Kokola Grup)

Produsen biskuit dan wafer, PT Mega Global Food Industry atau Kokola Group, berhasil menembus pasar ekspor hingga 55 negara. Capaian ini berkat dukungan dari pemerintah terhadap kemudahan akses hingga pembiayaan yang jadi fondasi tumbuhnya bisni.

Kokola Grup yang berlokasi di Gresik merupajan salah satu debitur program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) Trade Finance dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank). Upaya ini dilakukan guna mendukung ekspor nasional agar memiliki daya saing global yang pada akhirnya mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahyadi menyampaikan, akumulasi pembiayaan yang diterima lebih dari US$3 juta atau sekitar Rp 51,42 miliar (estimasi kurs Rp 17.140 per dolar AS) dalam bentuk plafon. Suntikan modal ini diterima tidak sekaligus, melainkan dalam kurun waktu empat tahun yang digunakan secara bertahap sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

“Tergantung momennya. Jadi kita jual, collect, jual, collect,” ujar Rirchard saat kegiatan kunjungan kerja Kementerian Keuangan bersama awak media pada Jumat, 17 April 2026 di Gresik. 

Direktur PT Mega Global Food Industry (Kokola Grup) Richard Cahyadi

Richard menambahkan, produk Kokola Grup telah menjangkau pasar utama di Asia meliputi Australia, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Yaman serta bekerja sama dengan lebih dari 100 mitra supermarket dunia. Richard menegaskan, kualitas menjadi kunci utama untuk menembus pasar internasional, khususnya negara dengan standar tinggi seperti Jepang.

"Saat ini kami telah berhasil menembus pasar ekspor ke 55 negara,” kata Richard. 

Selama periode 2024-2025, perusahaan berhasil membukukan nilai ekspor dari 55 negara mencapai US$33,57 juta. Nilai eskpor di tahun 2025 naik menjadi US$19,96 juta dari tahun sebelumnya sebesar US$13,71 juta.

Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman, menegaskan PKE Trade Finance ini merupakan mandat pemerintah untuk mendorong industri strategis nasional dan UKM agar mampu bersaing di pasar global. Program ini juga diharapkan dapat menciptkan efek pertumbuhan (development impact), baik bagi perusahaan, pemerintah daerah maupun devisa negara. 

“LPEI mendukung proses transaksi ekspor melalui fasilitas pembiayaan pre dan post shipment sehingga eksportir dapat menjaga arus kas perusahaan serta memperoleh modal kerja untuk produksi barang,” ucap Sulaeman.

Sulaeman menyampaikan, fasilitas PKE Trade Finance telah dimanfaatkan eksportir dengan total limit mencapai Rp3,35 triliun dan realisasi penyaluran sebesar Rp7,68 triliun sampai akhir tahun 2025. Sektor makanan olahan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 39 persen atau 31 debitur dan berkontribusi terhadap penciptaan dan penghematan devisa hingga Rp 21,12 triliun.

Lebih lanjut, Sulaeman menuturkna LPEI juga memiliki fasilitas asuransi ekspor (trade credit insurance) yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Dimana perusahaan dapat mengklaim asuransi ini jika pembeli (buyer) gagal bayar (fault). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain pembiayaan dan penjaminan, Kokola juga memperoleh berbagai insentif dari Bea Cukai seperti penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PPN Barang Mewah (PPN-BM), dan Pajak Penghasilan (PPh) impor Pasal 22. Dukungan ini semakin memperkuat daya saing perusahaan dalam memperluas pasar internasional.

“Dengan dukungan tersebut, tim ekspor menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu untuk memperluas pasar serta menembus pasar ekspor global,” pungkas Richard.