Mirip dengan Kalajengking, Apakah Ketonggeng Berbahaya?

Ketonggeng, kalajengking, Mirip dengan Kalajengking, Apakah Ketonggeng Berbahaya?, Perbedaan ketonggeng dan kalajengking, Apakah ketonggeng berbahaya?, Habitat dan bioindikator kualitas air, Cara mengusir ketonggeng dari rumah

Banyak orang salah mengira ketonggeng sebagai hewan berbisa kalajengking.

Ketonggeng memiliki tubuh panjang berwarna coklat gelap kehitaman dengan sepasang capit besar di bagian depan.

Meski sekilas mirip, ketonggeng memiliki perbedaan mencolok pada bagian ekornya.

Berbeda dengan kalajengking yang memiliki ekor melengkung dan beruas dengan sengat tajam, ketonggeng memiliki ekor panjang dan tipis yang menyerupai cambuk.

Perbedaan ketonggeng dan kalajengking

Dilansir dari , dosen dan ahli serangga dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Sukirno, menjelaskan bahwa meski bentuknya mirip, keduanya berasal dari ordo yang berbeda dalam kelas Arachnida.

"Ketonggeng (Vinegaroon) dan kalajengking adalah hewan yang sama-sama dimasukkan dalam Klasis Arahnida, namun keduanya berbeda ordo," ujar Sukirno, Jumat (25/7/2025).

Secara ilmiah, ketonggeng masuk dalam Ordo Thelyphonida, sedangkan kalajengking termasuk dalam Ordo Scorpiones. Perbedaan paling krusial terletak pada alat pertahanan dirinya.

"Berbeda dengan kalajengking, pada posterior abdomennya, ketonggeng memiliki segmentasi abdomen berbentuk seperti jarum, filamen, cambuk. Tidak seperti kalajengking yang ujung posteriornya memiliki sengat dan kelenjar bisa atau venom," jelas Sukirno.

Apakah ketonggeng berbahaya?

Meskipun tidak memiliki racun atau bisa, ketonggeng memiliki cara unik untuk melindungi diri.

Saat merasa terancam, hewan ini akan menyemprotkan cairan kombinasi asam asetat dan asam oktanoat yang berbau menyengat seperti cuka. Hal inilah yang mendasari julukannya sebagai "vinegaroon".

Sukirno menegaskan bahwa ketonggeng tidak bisa menggigit, namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap capit dan semprotan asamnya.

“Ketonggeng tidak berbisa dan juga tidak bisa menggigit, hanya bisa mencapit. Tapi cairan asam cuka yang disemprotkan dapat menyebabkan kulit gatal dan panas seperti luka bakar,” tuturnya.

Habitat dan bioindikator kualitas air

Ketonggeng umumnya ditemukan di lingkungan yang lembap seperti area persawahan, hulu sungai, atau saluran irigasi.

Hewan yang aktif di malam hari (nokturnal) ini memangsa serangga hama, berudu, hingga ikan kecil.

Menariknya, kehadiran ketonggeng bisa menjadi penanda kualitas lingkungan.

Karena hanya mampu bertahan di perairan yang bersih dan bebas pencemaran, hewan ini sering dijadikan sebagai bioindikator kualitas air di suatu wilayah.

Cara mengusir ketonggeng dari rumah

Ketonggeng terkadang menyelinap ke dalam hunian manusia untuk mencari mangsa atau tempat lembap.

Sukirno menyarankan agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menutup celah-celah dinding agar hewan ini tidak masuk.

"Ketonggeng sangat suka dengan kelembapan tinggi dan adanya hewan mangsa seperti cacing, ikan kecil, jangkrik, kaki seribu, dan arthropoda lainnya," kata Sukirno.

Jika menemukan ketonggeng di dalam rumah, Sukirno mengimbau agar masyarakat tidak panik dan tidak perlu membunuhnya.

"Hewan ini tidak berbahaya dan tidak perlu dibunuh, dan Anda sebaiknya menggunakan sapu atau karton untuk mengeluarkannya dari rumah," jelasnya.

Apabila kulit terpapar semprotan asam ketonggeng, segera cuci area tersebut dengan sabun dan air mengalir. Jika muncul reaksi iritasi yang berlanjut, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang