Top 5+ Juta Wajib Pajak Masih Menunggak, Dedi Mulyadi Ingin Layanan Samsat Cepat dan Efisien Seperti Bank
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan publik, khususnya dalam pembayaran pajak kendaraan bermotor.
Ia menilai layanan Samsat harus meniru sistem perbankan yang dikenal efektif, efisien, dan mudah diakses oleh masyarakat.
Menurut Dedi, kemudahan layanan menjadi kunci untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak.
Ia menegaskan bahwa masyarakat pada dasarnya memiliki kemauan untuk memenuhi kewajiban tersebut, namun kerap terkendala oleh prosedur yang dianggap berbelit.
“Seluruh langkah ini merupakan upaya membangun kemudahan agar warga Jawa Barat mudah dalam membayar pajak kendaraan. Mereka itu mau bayar pajak. Mau bayar pajak kenapa harus dibuat menjadi berbelit? Semua harus dimudahkan,” ujar Dedi, Kamis (9/4/2026).
Apa Saja Terobosan yang Dilakukan?
Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah penerapan kebijakan pembayaran pajak kendaraan tahunan tanpa harus membawa KTP pemilik pertama. Kebijakan ini tertuang dalam surat edaran yang bertujuan mempermudah proses administrasi.
Dedi menilai, langkah tersebut merupakan awal dari reformasi pelayanan yang lebih luas di lingkungan Samsat.
Ia juga menekankan bahwa pelayanan publik harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat, bukan sebaliknya.
Bagaimana Perbandingan dengan Layanan Perbankan?
Dedi secara khusus menyoroti kemudahan layanan perbankan sebagai contoh yang dapat diadopsi oleh instansi pemerintah.
Menurutnya, sektor perbankan mampu memberikan layanan yang sederhana meskipun memiliki tingkat keamanan tinggi.
“Kita harus belajar dari perbankan, ke bank ngambil uang nggak usah buku, bawa buku tabungan cukup bawa ATM. Ganti ATM mudah, ganti buku tabungan mudah, transfer mudah, semuanya dimudahkan sehingga perbankan menjadi idola bagi warga Indonesia,” katanya.
Ia menilai prinsip kemudahan tersebut seharusnya dapat diterapkan dalam layanan pembayaran pajak kendaraan.
“Pemerintah ngurus (pajak) saja susah, orang bayar pajak itu dimudahin jangan dipersulit, ini harapan saya,” tambahnya.
Apa Dampak Pelayanan yang Rumit?
Dedi mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 5 juta wajib pajak yang belum memenuhi kewajibannya.
Salah satu penyebabnya adalah hambatan dalam proses pelayanan di lapangan. Ia menilai, prosedur yang rumit dapat menurunkan minat masyarakat untuk membayar pajak.
“Pada akhirnya males, logikanya kan sederhana. Dengan numpuk sampai jutaan apa dampaknya orang tidak bayar pajak? Orang tidak bayar Jasa Raharja? Setelah itu apa problemnya terjadi kecelakaan mereka tanpa Jasa Raharja apa dampaknya balik lagi ke Pemprov,” katanya.
Meski kebijakan kemudahan telah diterapkan, kondisi di beberapa kantor Samsat masih menunjukkan tingkat partisipasi yang belum optimal. Di sejumlah lokasi, antrean pembayaran terlihat tidak terlalu ramai.
Dedi optimistis bahwa dengan sistem yang lebih sederhana dan efisien, kepatuhan masyarakat akan meningkat. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan reformasi pelayanan publik.
“Kalau orang bayar pajaknya lancar, dia akan bayar pajak terus,” ucapnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Dedi Mulyadi Minta Samsat Jabar Tiru Bank: Bayar Pajak Jangan Dibuat Berbelit, Semua Harus Mudah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang