Dari Pangkas Pajak BBM hingga WFH, Ini Jurus Dunia Redam Krisis Energi

Ilustrasi Minyak Mentah
Ilustrasi Minyak Mentah

Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah kian memburuk setelah terganggunya pasokan minyak dunia. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz membuat harga energi melonjak dan memaksa banyak negara mengambil langkah darurat.

Melansir dari The Guardian, berikut respons berbagai negara dalam menghadapi krisis tersebut, sebagaimana dirangkum pada Sabtu, 4 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

1. Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, pemerintah memilih memperkuat investasi di sektor minyak dan gas di tengah lonjakan harga energi. Kebijakan ini diambil bersamaan dengan dorongan untuk meningkatkan produksi energi fosil, meski dinilai berpotensi menghambat pengembangan energi terbarukan. Pemerintah juga tidak menambah subsidi langsung bagi rumah tangga.

2. Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada

Inggris memberikan bantuan finansial terbatas untuk rumah tangga yang terdampak lonjakan harga energi. Sementara Australia memangkas pajak bahan bakar hingga 50 persen untuk menekan harga di SPBU. 

Selandia Baru menyalurkan bantuan tunai mingguan kepada keluarga, sedangkan Kanada memilih tidak melakukan intervensi langsung terhadap harga energi.

3. Uni Eropa

Uni Eropa mendorong percepatan transisi ke energi bersih sebagai respons jangka panjang. Namun, beberapa negara justru menunda penghentian penggunaan batu bara. Selain itu, Komisi Eropa mengusulkan penurunan pajak listrik guna mengurangi ketergantungan pada energi impor, serta memberikan subsidi dan insentif untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga.

4. Asia

Kawasan Asia menjadi salah satu yang paling terdampak. India dan Jepang meningkatkan penggunaan batu bara demi menjaga pasokan listrik. 

Sri Lanka menerapkan pembatasan bahan bakar dan minggu kerja empat hari, sementara Vietnam mendorong sistem kerja dari rumah. 

Di Thailand, pemerintah mengimbau pengurangan penggunaan pendingin ruangan serta perubahan gaya berpakaian untuk menghemat energi. Indonesia sendiri juga melakukan langkah serupa, salah satunya kebijakan work from home (WFH) sehari dalam satu minggu. 

5. Afrika

Banyak negara Afrika terdampak karena bergantung pada impor bahan bakar. Ethiopia memberikan subsidi energi untuk menjaga stabilitas, sementara Zimbabwe meningkatkan campuran bahan bakar dengan etanol. Sejumlah negara juga mulai menerapkan pembatasan penggunaan energi untuk mengantisipasi krisis berkepanjangan.

6. Amerika Selatan

Di kawasan ini, Chile memilih menaikkan harga bahan bakar mengikuti pasar global. Sementara itu, Argentina menunda kenaikan pajak energi guna meredam tekanan ekonomi. Beberapa negara lainnya tetap berhati-hati dalam memberikan subsidi agar tidak membebani anggaran negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagaimana diketahui, krisis ini sendiri dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran dan terganggunya distribusi minyak global. International Energy Agency (IEA) bahkan telah melepas cadangan minyak strategis serta menyerukan penghematan energi secara luas.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak krisis energi tidak hanya bersifat regional, tetapi telah menjadi tantangan global yang memaksa setiap negara mengambil langkah cepat dan beragam.