Selain Ekonomi, Konflik Geopolitik Jadi Alasan Wisatawan Takut Jalan-jalan
Ketegangan geopolitik terkait serangan Amerika Serikat (AS)-Israel lawan Iran menjadi hambatan nomor satu bagi perjalanan internasional, tak lagi sekadar masalah ekonomi atau nilai tukar mata uang yang mahal, menurut survei.
"Mengingat ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, memahami bagaimana peristiwa-peristiwa ini memengaruhi kepercayaan para wisatawan merupakan hal yang sangat penting bagi para pelaku bisnis dan pembuat kebijakan," tulis keterangan dari perusahaan riset pasar asal New York, AS, OvationMR, dilansir Sabtu (4/4/2026).
Konflik tersebut telah mengubah peta pariwisata dunia. Banyak wisatawan saat ini merasa tidak aman untuk terbang jauh sehingga bisa berdampak pada industri penerbangan global.
Konflik geopolitik bikin wisatawan takut terbang jauh
Keamanan jadi prioritas
Israel vs Iran bikin wisatawan takut jalan-jalan, selain faktor ekonomi. Simak hasil survei terhadap wisatawan asal AS dan Eropa ini.
Sebanyak enam dari 10 wisatawan merasa ragu untuk terbang dalam enam bulan ke depan. Kewaspadaan tersebut cukup tinggi di Italia, Spanyol, Inggris, dan AS.
Alasan utamanya yaitu perang yang masih terjadi karena banyak wisatawan khawatir konflik ini akan meluas. Ketakutan ini membuat wisatawan mengurungkan niat untuk berlibur dan keamanan menjadi prioritas utama.
Selain itu, wisatawan juga menghubungkan konflik geopolitik dengan keamanan pribadi, risiko rute, dan pengambilan keputusan maskapai penerbangan.
Data ini berasal dari survei terhadap lebih dari 1.000 wisatawan dari AS dan lima negara Eropa yaitu Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol.
Peserta survei sudah pernah terbang ke luar negeri dalam tiga bulan sebelumnya atau berencana terbang ke luar negeri pada enam bulan ke depan.
Tidak hanya itu, berdasarkan data dari firma analitik penerbangan Cirium, permintaan penerbangan transatlantik sudah menurun.
Kondisi tersebut diperparah setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026 lalu, dilansir dari Forbes.
Sejak serangan tersebut, jumlah pemesanan tiket pesawat terjun bebas. Data Cirium menunjukkan pemesanan tiket pesawat dari Eropa ke AS untuk bulan Juli 2026 turun sebesar 15,34 persen.
Sementara itu, pemesanan tiket pesawat dari AS ke Eropa turun sebesar 11,19 persen dibandingkan tahun lalu.
Menurut juru bicara Cirium, Mike Arnot, tren penurunan ini bukanlah hal baru. Namun, konflik geopolitik membuat kondisi tersebut semakin parah.
"Pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026, terlihat tren umum berupa penurunan jumlah pemesanan dari Amerika Serikat ke Eropa, tapi terutama dari Eropa ke Amerika Serikat," ucap juru bicara Cirium, Mike Arnot.
Nasib wisatawan mewah (luxury travelers)
Tetap bepergian, tapi jadi lebih waspada
Konflik AS-Israel vs Iran bikin wisatawan takut jalan-jalan, selain faktor ekonomi. Simak hasil survei terhadap wisatawan asal AS dan Eropa ini.
Menariknya, kelompok wisatawan kaya atau luxury travelers punya reaksi berbeda. Misty Belles dari jaringan Virtuoso menuturkan, sebanyak sembilan dari 10 penasihat perjalanan mewah menyebut masalah geopolitik sebagai faktor utama tahun 2026.
Meski begitu, para orang kaya ini tidak berhenti bepergian.
"Mungkin saja hal ini memengaruhi tujuan atau cara mereka bepergian, tapi kami tidak melihat adanya pembatalan dan tidak ada penurunan jumlah pemesanan, hanya saja orang-orang kini lebih waspada," kata Belles kepada Forbes.
Namun, bagi wisatawan kelas menengah, ceritanya berbeda. Konsultan perjalanan dari Fora, Nancy McLaughlin melihat pola tertentu.
Klien yang memesan hotel seharga 800 dollar AS (sekitar Rp 13,59 juta) hingga 1.200 dollar AS (sekitar Rp 20,39 juta) per malam tetap lanjut berlibur.
Namun, banyak klien lain yang mulai menarik diri dari perjalanan internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang