Dari Abad ke-9 hingga Kini, Campak Tetap Jadi Penyakit Paling Menular di Dunia

campak, penyakit menular, Dari Abad ke-9 hingga Kini, Campak Tetap Jadi Penyakit Paling Menular di Dunia

Beberapa waktu terakhir, kasus campak tengah melonjak di beberapa wilayah Indonesia.

Kasus campak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan meningkat menjelang periode mudik Lebaran 2026.  

Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi, atau sekitar 5,6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, diberitakan (17/3/2026).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati mengatakan, tren kasus campak di wilayah tersebut memang menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir dengan sebagian besar kasus ditemukan pada anak usia 2-9 tahun.

"Namun sebagian juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi," ujarnya.

Terbaru, seorang dokter berinisial AMW (26) dikabarkan meninggal dunia akibat suspek campak pada Kamis (26/3/2026) saat menjalani tugas sebagai dokter internship di RSUD Cimacan, Cianjur.  

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menjelaskan, kondisi pasien memburuk akibat komplikasi serius.

“Berdasarkan hasil investigasi sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya,” kata Aji, Jumat (27/3/2026).

Komplikasi pneumonia diketahui menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kasus campak, terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh yang lemah atau belum memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Campak disebut sebagai penyakit yang paling mudah menular antara manusia. Lantas, bagaimana sejarah penyakit ini?

Sejarah campak si penyakit kuno

Campak (measles) merupakan salah satu penyakit menular paling tua yang dikenal manusia.

Penyakit ini dipicu oleh Measles virus, yang termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae. Virus ini menyerang saluran pernapasan, lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa penyakit ini telah ada berabad-abad yang lalu dan pernah menyebabkan wabah besar di berbagai belahan dunia.

Dilansir dari laman World Health Organization (WHO), deskripsi awal campak pertama kali ditulis oleh dokter Persia, Muhammad ibn Zakariya al-Razi, pada abad ke-9.

Ia menjadi orang pertama yang membedakan campak dari cacar, dua penyakit yang sebelumnya sering dianggap sama.

Sejak saat itu, campak dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dan sering menyebabkan wabah, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menjelaskan bahwa campak menjadi endemik di banyak wilayah dunia setelah populasi manusia meningkat dan mobilitas antarwilayah semakin tinggi.

Sebelum adanya vaksin, hampir semua anak di dunia diperkirakan pernah terinfeksi campak.

Wabah besar kerap terjadi setiap beberapa tahun dan menyebabkan jutaan kematian, terutama pada anak-anak.

Menurut WHO dan CDC, campak disebut penyakit paling mudah menular lantaran:

  • Virus menyebar lewat udara dan droplet
  • Virus bisa bertahan di udara hingga beberapa jam, bahkan setelah si pembawa virus pergi
  • 9 dari 10 orang yang tidak kebal akan tertular jika terpapar.

Era sebelum vaksin dengan jutaan kematian

Menurut WHO, sebelum vaksin campak diperkenalkan pada 1963, wabah besar terjadi setiap 2–3 tahun dan menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian per tahun di seluruh dunia.

Seperti yang terjadi di Kepulauan Faroe dengan wabah campak yang terjadi pada tahun 1846, Hawaii pada tahun 1848, Fiji pada tahun 1875, dan Rotuna pada tahun 1911.

Campak saat itu menjadi salah satu penyebab utama kematian anak secara global, terutama di negara dengan akses layanan kesehatan terbatas.

Perkembangan besar terjadi ketika vaksin campak pertama berhasil dikembangkan pada 1963.

Sejak saat itu, program imunisasi massal mulai diterapkan di banyak negara.

WHO mencatat bahwa vaksinasi telah secara drastis menurunkan angka kematian akibat campak.

Antara tahun 2000 hingga 2021, vaksin campak diperkirakan telah mencegah puluhan juta kematian di seluruh dunia.

Namun, meski sudah ada vaksin, campak belum sepenuhnya hilang.

WHO dan CDC menegaskan bahwa wabah masih dapat terjadi, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.

Karena virus ini sangat menular, penurunan sedikit saja dalam tingkat vaksinasi dapat memicu lonjakan kasus, termasuk pada orang dewasa yang tidak memiliki kekebalan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang