Irak Tolak Bergabung dalam Operasi di Selat Hormuz

Selat Hormuz.
Selat Hormuz.

Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani menyatakan, Irak tidak akan berpartisipasi dalam operasi di Selat Hormuz.

Menurutnya, operasi itu tidak akan membantu pelayaran dan akan memprovokasi reaksi dari Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Eskalasi seputar Iran telah menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, juga telah memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

Kepulan Asap Serangan di sekitar Kedubes AS di Irak

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebelumnya telah menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke selat tersebut.

"Kami tidak percaya pada solusi militer. Perlindungan bersenjata terhadap kapal akan memprovokasi reaksi dari Iran dan tidak akan berkontribusi pada pelayaran. Oleh karena itu, kami tidak akan berpartisipasi dalam aksi militer apa pun di Teluk Persia," kata al-Sudani.

Pada 19 Maret, enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang, mengumumkan "kesiapan mereka untuk berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui" Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa negara lain kemudian ikut bergabung dalam pernyataan tersebut.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. (Ant).