Belajar dari Gang Hijau Srengseng: Menabung Sampah, Mendulang Rupiah

Belajar dari Gang Hijau Srengseng: Menabung Sampah, Mendulang Rupiah

Meski sempit, jalanan yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor itu tampak bersih, tidak ada sampah berserakan, pun tidak ada aroma tak sedap dari selokan yang menguar.

Meski Jumat (13/3/2026) siang itu matahari cukup terik, tetapi menyusuri Gang Hijau di Jalan Nanas RT 03/07, Srengseng, Jakarta Barat (Jakbar) terasa lebih teduh.

Gang kecil itu di tengah padatnya Kota Jakarta itu rimbun oleh tanaman hias hingga tanaman obat.

Di beberapa spot terdapat tong sampah yang nangkring, tidak ada sampah berserakan maupun bertumpuk, baik di sepanjang jalan, maupun di sekitar tong sampah.

Sebagai yang kerap menyusuri gang-gang sempit di kawasan Jakarta, pemandangan ini agaknya cukup asing di mata saya. 

Belum lagi, meskipun anak-anak berkeliaran di sekitar gang, tidak ada yang asal membuang kemasan camilan atau sekadar menyambar tanaman ketika lewat.

"Apa rahasianya, Bu?" pertanyaan yang berputar-putar di kepala itu spontan saya lontarkan.

Sekretaris Gang Hijau Yustina Suwartiningsih tersenyum. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan saya, tetapi langsung mengajak saya menyusuri gang menuju pusat Bank Sampah.

Menabung sampah, mendulang rupiah

Belajar dari Gang Hijau Srengseng: Menabung Sampah, Mendulang Rupiah

Potret Bank Sampah Bumi Lestari RW 07 Srengseng, Jakarta Barat, Selasa (14/10/2026).

Sembari menyusuri gang yang berkelok, Yustina bercerita bahwa masyarakat di sana, khususnya di RT 03/04 Srengseng punya rutinitas untuk menabung sampak anorganik. 

Sampah tersebut nantinya akan dijual ke Bank Sampah Bumi Lestari RW 07 Srengseng. Hasil dari penjualan sampah tersebut dapat diuangkan ke dalam bentuk rupiah, atau bisa pula ditabung ke dalam bentuk tabungan emas.

"Pendekatan mengenai peduli sampah ini disampaikan kepada semua masyarakat, termasuk anak-anak. Jadi pendekatannya ke anak-anak, bapak-bapak, ke ibu-ibu juga," tutur Yustina. 

Sistemnya, lanjut Yustina, setiap rumah akan mengumpulkan sampah anorganik seperti kardus, botol plastik, ataupun besi yang bisa didaur ulang. Setiap sampah dibersihkan dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

Belajar dari Gang Hijau Srengseng: Menabung Sampah, Mendulang Rupiah

Potret Bank Sampah Bumi Lestari RW 07 Srengseng, Jakarta Barat, Selasa (14/10/2026).

Nantinya, setiap bulan pada pekan pertama, masyarakat akan menyetor sampah ke Bank Sampah untuk ditimbang.

"Setiap pengangkutan sampah, bisa sekitar satu hingga dua ton sampah yang diangkut dari Bank Sampah ke tempat pengolahan," kata Ketua Bank Sampah Buim Lestari RW 07 Kelurahan Srengseng, Sukini kepada Kompas.com, Jumat (13/3/2026).

Sejak berdiri pada 2015 hingga sekarang, lanjutnya, perbedaan yang paling dirasakan dengan kepedulian masyarakat terhadap sampah yaitu, lingkungan terasa lebih bersih.

Kata Sukini, jika biasanya sampah berserakan, kini masyarakat memungut sampah yang bisa diolah dan bernilai ekonomi.

Belajar dari Gang Hijau Srengseng: Menabung Sampah, Mendulang Rupiah

Suasana teduh Gang Hijau di Jalan Nanas RT 03/07 Srengseng, Jakarta Barat, Jumat (13/3/2026).

"Jadi, sampah yang tadinya cuma dibuang-buang, ditendang-tendang. Ada nilai ekonominya loh, bisa buat beli beras, buat beli minyak, lingkungan pun makin tambah bersih, tidak ada sampah-sampah berserakan," tutur Sukini.

Ia melanjutkan, dalam pengoperasian bank sampah ini, pihak pengelola bekerjasama dengna pihak ketiga sebagai pihak pengolah sampah.

Ketua Gang Hijau RT 03 Srengseng, Rafael Sugito, menuturkan bahwa tidak ada sanksi yang dikenakan kepada masyarakat apabila ada sampah yang berserakan di sekitar rumah mereka.

Namun, ia lebih menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai kebersihan lingkungan.

"Sanksinya cuma rasa malu saja karena ditegur sama yang lain," kata Sugito.

Apa yang dilakukan oleh warga Gang Hijau Jalan Nanas adalah hal positif yang bisa dipelajari dan diduplikasi di permukiman padat penduduk. Lingkungan menjadi bersih, warga pun menambah pundi-pundi penghasilan dari hasil menjual sampah-sampah yang dihasilkan sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang