Eks Pentolan Bais TNI soal Ledakan di SMAN 72: Hanya Kenakalan Remaja, Tak Terlibat Kelompok Teroris
Pengamat Intelijen, Soleman B. Ponto menilai bahwa ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada Jumat, 7 November 2025 siang, lebih mengarah pada kenakalan remaja, dan tak terkait dengan kelompok teroris.
“Sampai sekarang saya masih melihat ini baru coba-coba, mungkin coba-coba dari anak sekolah," kata Soleman dalam program Apa Kabar Indonesia Malam tvOne, dikutip Minggu 9 November 2025.
"Karena ini anak sekolah, kalau mengingat waktu saya dulu SMA umur-umur segitu itu ketika pelajaran kimia kita juga coba-coba," tambah mantan kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI itu.
VIVA Militer: Mantan Kepala Bais TNI Laksda TNI (Purn) B.Soleman Ponto
Dalam kasus ini, Soleman meragukan adanya keterlibatan kelompok teroris, mengingat situasi global, regional dan nasional saat ini tidak menunjukkan adanya kondisi yang mendesak kelompok teroris beraksi.
"Kalau kita tarik terlalu jauh, apakah ini ada hubungan dengan teroris? Karena dilihat situasi global, situasi regional, situasi nasional, tidak ada hal-hal yang dapat mengakibatkan kelompok teroris untuk memaksakan kehendaknya," kata Soleman.
Pensiunan jenderal bintang dua TNI AL itu menegaskan, ledakan yang terjadi di SMAN 72 pada saat salat Jumat kemungkinan besar murni kenakalan remaja atau rasa ingin tahu siswa yang berujung pada kecelakaan.
"Mungkin dia sendiri tidak tahu hasilnya akan seperti apa. Dia coba-coba percobaan ini karena apakah dari pelajaran, apakah dia melihat dari YouTube? Apakah dia lihat dari kawan? Tapi bagi saya mungkin baru sampai di situ, kita harus menunggu hasil pemeriksaan seperti apa," tambahnya.
"Kalau upaya teror saya kira belum sampai upaya teror. Karena siapa yang mau diteror? Lalu untuk apa dia meneror? Karena situasi untuk sebagai teroris itu belum ada," tegasnya.
Untuk mendalami kasus ini, kata Soleman, polisi perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai latar belakang terduga pelaku, termasuk teman-temannya, aktivitasnya dalam tiga bulan terakhir, terutama dalam pelajaran kimia, serta kebiasaan penggunaan ponselnya.
"Dari situ baru kita bisa tarik apakah ini terpapar dari kelompok teroris atau bukan. Tapi sampai sejauh ini kalau saya masih melihat bahwa ini adalah hasil kenakalan atau hasil keingintahuan baru sampai di situ," pungkasnya.