Daftar Maskapai yang Harganya Melonjak Naik dampak Perang AS-Israel-Iran

Eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran kini berdampak langsung pada kantong para pelancong di seluruh dunia.
Sejumlah maskapai penerbangan besar di Asia dan Eropa mulai mengumumkan kenaikan harga tiket dan pengenalan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sebagai respons atas melonjaknya harga minyak mentah dan biaya operasional yang membengkak.
Dikurtip dari Sundayguardianlive, pada Kamis (12/3/26) ketegangan di Timur Tengah telah menyebabkan harga bahan bakar jet meroket. Jika biasanya harga berada di kisaran $85–$90 per barel (Rp 1.444.539-Rp 1.529.511), kini angka tersebut melambung hingga $150–$200 per barel (Rp 2.549.186- Rp 3.398.915).
Selain faktor harga, penutupan sebagian besar ruang udara di atas Timur Tengah memaksa maskapai mengambil rute memutar yang lebih jauh, yang secara otomatis mengonsumsi lebih banyak bahan bakar.
Berikut adalah daftar maskapai yang telah mengonfirmasi kenaikan harga atau penyesuaian tarif akibat konflik tersebut:
1. Qantas Airways (Australia)
Maskapai bendera Australia ini secara resmi menaikkan tarif untuk rute internasionalnya minggu ini.
Manajemen Qantas menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar jet yang dipicu oleh konflik AS-Israel-Iran berdampak signifikan pada pengeluaran operasional mereka.
Meskipun harga naik, Qantas mencatat permintaan tetap kuat, dengan keterisian kursi ke Eropa mencapai di atas 90 persen.
2. Air New Zealand (Selandia Baru)
Menyusul langkah Qantas, Air New Zealand juga telah menaikkan harga tiket. Selain kenaikan harga, maskapai ini bahkan mengumumkan pembatalan ribuan penerbangan dari pertengahan Maret hingga Mei karena kendala logistik dan biaya yang tidak lagi efisien akibat situasi geopolitik.
3. Cathay Pacific (Hong Kong)
CEO Cathay Pacific, Ronald Lam, mengonfirmasi rencana kenaikan biaya tambahan bahan bakar untuk penumpang dan kargo. Ia mengungkapkan bahwa harga bahan bakar jet hampir berlipat ganda sejak awal bulan.
Maskapai ini hanya melakukan lindung nilai (hedging) sekitar 30% dari biaya bahan bakar mereka, sehingga sangat terpapar oleh fluktuasi harga pasar saat ini.
4. AirAsia (Malaysia/Regional)
Grup maskapai bertarif rendah terbesar di Asia, AirAsia, mengumumkan kenaikan harga tiket dan biaya tambahan bahan bakar untuk sementara waktu.
Pihak maskapai menyatakan akan terus menyesuaikan tarif berdasarkan perkembangan pasar energi global yang sangat volatil.
5. Thai Airways (Thailand)
Thai Airways memberikan peringatan kepada para investor dan calon penumpang bahwa harga tiket bisa melonjak antara 10% hingga 15%. Hal ini disebabkan oleh kombinasi kenaikan biaya energi dan terbatasnya akses ke kilang minyak tertentu akibat konflik.
6. Maskapai Eropa (Lufthansa, Ryanair, Air France-KLM)
Di Eropa, kelompok maskapai besar seperti Lufthansa Group, Ryanair, Air France-KLM, dan International Airlines Group (IAG) juga merasakan tekanan.
Analis dari JPMorgan Chase memperkirakan laba operasional maskapai-maskapai ini bisa tergerus 3 persen hingga 10 persen jika harga bahan bakar terus bertahan di level tinggi. Maskapai bertarif rendah seperti Wizz Air bahkan diprediksi mengalami penurunan laba hingga 31 persen.
Beberapa maskapai lain yang juga terpantau melakukan penyesuaian harga atau terdampak rute perjalanannya meliputi:
- Scandinavian Airlines (SAS)
- Finnair
- Hong Kong Airlines
- Japan Airlines
Mengapa harga tiket naik begitu tajam?
Menurut Quartz, pada Rabu (11/3/26) para ahli transportasi menyebutkan ada tiga faktor utama.
1. Lonjakan harga bahan bakar
Bahan bakar jet berkontribusi sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai. Ketika harga melonjak dua kali lipat, maskapai tidak memiliki pilihan selain membebankannya kepada konsumen.
2. Rerouting (pengalihan rute)
Penutupan ruang udara Iran dan sekitarnya memaksa penerbangan antara Asia dan Eropa mengambil rute memutar melalui Amerika Serikat, kota-kota Asia lainnya, atau Johannesburg, yang menambah durasi terbang dan biaya bahan bakar.
3. Masalah kilang
Konflik telah mengganggu rantai pasokan bahan bakar jet dari kilang-kilang di Timur Tengah, menyebabkan kelangkaan stok di beberapa hub internasional.
Rico Merkert, Profesor Transportasi dari University of Sydney, menyarankan agar calon penumpang yang berencana terbang dalam waktu dekat segera melakukan pemesanan sekarang.
"Jika Anda ingin terbang dalam beberapa bulan ke depan, lebih baik memesan sekarang untuk menghindari kenaikan harga hingga 30 persen yang diprediksi akan terus terjadi," ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda ketegangan di Timur Tengah akan mereda, yang berarti tren kenaikan harga tiket pesawat ini kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga musim panas mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang