Airlangga sebut Ekskalasi Perang di Iran Bakal Dongkrak Harga BBM di RI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bakal turut mendongkrak harga minyak global, yang juga akan berpengaruh ke harga BBM di Tanah Air.

Hal itu sebagaimana yang terjadi saat konflik geopolitik serupa menerjang Eropa, utamanya saat pecah perang antara Rusia dan Ukraina beberapa tahun lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dimana saat itu harga minyak dunia ikut melonjak, dan turut meningkatkan harga BBM di Indonesia yang pasokannya secara mayoritas masih bergantung pada impor.

"(Harga BBM) otomatis akan naik, sama seperti saat perang Ukraina," kata Airlangga di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

Karenanya, Airlangga memastikan bahwa pemerintah bakal terus memantau dinamika geopolitik di Iran dan kawasan. Sebab hal itu telah mengganggu jalur distribusi logistik dan minyak dunia, dengan adanya blokade di Selat Hormuz dan Laut Merah. 

Airlangga mengatakan, umumnya peningkatan eskalasi konflik yang kerap terjadi di kawasan Timur Tengah, memang kerap memberikan efek terhadap distribusi dan harga minyak global. 

"Pertama, tentu kalau (perang) Iran sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak, dan suplai minyak itu karena selat Hormuz kan terganggu, belum juga Red Sea," ujar Airlangga.

Namun, Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah memiliki sejumlah opsi untuk memitigasi dampak langsung terhadap pasokan minyak di dalam negeri.

Karena diakuinya, pasokan minyak Indonesia tidak hanya semata berasal dari kawasan Timur Tengah, melainkan juga dari Amerika Serikat (AS). Hal itu karena Indonesia melalui Pertamina telah melakukan penandatanganan kerjasama dengan perusahaan migas asal AS seperti ExxonMobil dan Chevron.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia bahkan mengakui bahwa tidak menutup kemungkinan Indonesia akan melakukan pengadaan komoditas energi dari negara lain, apabila kondisi geopolitik di Timur Tengah terjadi dalam jangka panjang.

"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari negara non Middle East. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika Serikat," ujarnya.