Daftar Negara Paling Terdampak Penutupan Selat Hormuz

Ilustrasi selat hormuz
Ilustrasi selat hormuz

Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran global atas stabilitas pasokan energi dunia. Hal tersebut lantaran penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang bisa berdampak pada negara-negara Asia, yang sangat bergantung pada minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Sekitar 20–30 persen pasokan minyak dan gas global dikirim melalui Selat Hormuz setiap hari. Jika jalur ini terganggu atau ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen dan perusahaan energi, tetapi juga oleh negara-negara pengimpor utama yang ekonominya sangat tergantung pada stabilitas harga energi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Negara-Negara yang Paling Terdampak

Berdasarkan data dari US Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada 2024. Sekitar 84 persen pengiriman minyak mentah dan kondensat tersebut menuju pasar Asia.

Empat negara yang paling bergantung pada jalur ini adalah:

- China

- India

- Jepang

- Korea Selatan

Keempat negara ini menyerap sekitar 69 persen total aliran minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz. China sendiri menerima sekitar setengah impor minyak mentahnya melalui jalur tersebut.

Jika terjadi lonjakan harga minyak hingga US$100 per barel (setara Rp1.680.000), tekanan terbesar akan dirasakan oleh negara-negara dengan kebutuhan energi impor tinggi dan sektor manufaktur besar.

“Selat Hormuz sangat penting bagi pasar energi global, karena sekitar 30 persen minyak mentah laut dunia melintasi jalur ini. Selain itu, hampir 20 persen bahan bakar jet global dan sekitar 16 persen bensin serta nafta juga melewati Selat tersebut,” kata Muyu Xu, analis minyak mentah senior di Kpler, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Senin, 2 Maret 2026.

Ia menambahkan, bahwa sejak konflik dimulai, lalu lintas kapal melalui selat mengalami penurunan tajam. Data pelayaran menunjukkan sedikitnya 150 kapal tanker, termasuk kapal pengangkut minyak mentah dan LNG, telah menjatuhkan jangkar di perairan Teluk.

Penutupan total Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global hanya dalam semalam. “Penutupan Selat Hormuz akan mengganggu sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global dalam semalam, dan harga tidak hanya akan melonjak, tetapi akan melonjak tajam karena ketakuta,” ungkap Ali Vaez dari International Crisis Group. 

“Guncangan tersebut akan menyebar jauh melampaui pasar energi, memperketat kondisi keuangan, memicu inflasi, dan mendorong ekonomi yang rapuh semakin dekat ke jurang resesi dalam hitungan minggu.”

Jika harga minyak naik ke US$100 per barel (Rp1.680.000) dan bertahan di level tersebut, tekanan inflasi global akan meningkat tajam. “Jika harga minyak mentah naik ke 100 dolar per barel dan bertahan di level tersebut untuk sementara waktu, hal itu dapat menambah 0,6–0,7 persen terhadap inflasi global,” jelas Hamad Hussain dari Capital Economics. 

Ia juga menekankan bahwa kenaikan harga minyak hampir pasti akan diikuti oleh kenaikan harga gas alam. “Kondisi ini dapat memperlambat laju pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral besar, terutama di negara-negara berkembang, di mana pembuat kebijakan cenderung lebih sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi negara-negara Asia seperti China dan India, lonjakan harga energi berarti kenaikan biaya produksi, transportasi, serta tekanan pada subsidi bahan bakar. Jepang dan Korea Selatan, yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, juga menghadapi risiko defisit perdagangan yang melebar.

Lonjakan harga minyak global tidak hanya berdampak pada raksasa ekonomi Asia. Negara-negara Asia Tenggara yang mengimpor minyak dan gas dari pasar global juga akan terkena imbas melalui kenaikan harga BBM, tarif listrik, dan biaya logistik.