Penurunan Muka Tanah di Bandung Raya Capai 12 Cm per Tahun, Wilayah Ini Paling Terdampak

penurunan permukaan tanah, Penurunan Muka Tanah di Bandung Raya Capai 12 Cm per Tahun, Wilayah Ini Paling Terdampak

Wilayah Bandung Raya mengalami penurunan permukaan tanah secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Program Studi S-2 dan S-3 Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Gumilar saat acara CEO Summit di Innovation Park, Summarecon, Bandung, Jawa Barat pada Senin (15/12/2025).

Ia menyampaikan, penurunan permukaan tanah bisa mencapai10 hingga 12 sentimeter per tahun.

Jumlah tersebut dapat terakumulasi hingga lebih dari satu meter jika dihitung dalam sepuluh tahun ke belakang.

“Bandung ini sudah kita amati sejak tahun 2000. Dengan teknologi geodesi, kita bisa melihat bahwa ada titik-titik tertentu di Kota Bandung yang mengalami kejadian penurunan muka tanah yang cukup signifikan,” ujar Irwan dikutip dari TribunJabar, Senin (15/12/2025).

Wilayah Bandung Raya yang Alami Penurunan Tanah secara Signifikan

Irwan menjelaskan, kawasan Bandung Timur dan Kabupaten Bandung mengalami penurunan permukaan tanah 10 hingga 12 sentimeter per tahun.

Hasil tersebut diperoleh berdasarkan hasil pengamatan sejumlah titik di Jawa Barat.

Kondisi ini bahkan terjadi secara konsisten tanpa adanya tanda-tanda perlambatan.

“Kalau dibiarkan, dampaknya akan semakin berat,” kata Irwan.

Ia menuturkan, dampak penurunan muka tanah sudah tampak jelas di lapangan. 

Berbagai fasilitas publik dan permukiman warga mengalami kerusakan, mulai dari jalan hingga bangunan tempat tinggal. 

Di sejumlah lokasi, jembatan terlihat seolah tetap berada di ketinggian semula, sementara tanah di sekelilingnya turun drastis.

Selain itu, banyak rumah yang sekarang sudah tinggal setengah atau tiga perempat karena tanahnya turun. 

“Ini jelas berdampak pada keselamatan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat,” jelas Irwan.

Ia juga menyoroti keterkaitan erat antara penurunan muka tanah dan meningkatnya risiko banjir. 

Menurutnya, perubahan elevasi permukaan tanah menyebabkan terganggunya aliran air alami.

“Ketika permukaan tanah turun, sistem aliran air alami terganggu,” ucapnya.

"Air yang seharusnya mengalir ke satu arah justru tertahan atau berbalik, sehingga memperparah genangan dan banjir di wilayah rendah," tambah Irwan.

Proses Pemantauan Permukaan Tanah Bandung Raya

Irwan menjelaskan, temuan soal penurunan permukaan tanah didapat setelah Tim Geodesi dan Geomatika ITB mengombinasikan berbagai metode.

Di antaranya, GPS geodetik, radar satelit atau InSAR, serta pengembangan GPS berbiaya rendah. 

Teknologi radar dinilai memberikan gambaran yang lebih rinci terkait perubahan permukaan tanah secara spasial.

“Kami memasang dan mengamati data GPS secara konsisten dari tahun 2000 hingga 2025, dengan dukungan pendanaan dari dalam dan luar negeri,” jelas Irwan.

“Hasilnya menunjukkan tren yang sama antara data GPS dan radar, dengan korelasi mencapai sekitar 80 persen,” tambahnya.

Pengujian GPS murah juga dilakukan di lima titik di Bandung Selatan. 

Meski menggunakan perangkat berbiaya rendah, hasil pengukurannya tetap menunjukkan konsistensi dengan metode konvensional.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa penurunan tanah di sejumlah titik mencapai 14 hingga 15 sentimeter.

Tak hanya mengandalkan teknologi, tim peneliti juga melakukan survei langsung di ratusan lokasi untuk melihat dampak penurunan tanah terhadap bangunan dan infrastruktur. 

Kerusakan yang ditemukan bervariasi, mulai dari retakan lantai dan dinding rumah hingga kerusakan jalan dan jembatan.

“Kondisi ini cukup berbahaya, terutama di jalur transportasi dan kawasan padat aktivitas. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika menemukan kerusakan agar bisa ditindaklanjuti,” katanya.

Lebih jauh, tim peneliti menyusun pemodelan untuk memproyeksikan dampak penurunan tanah terhadap potensi banjir hingga tahun 2050. 

Hasil simulasi menunjukkan, tanpa langkah mitigasi yang serius, risiko banjir di Bandung Timur diperkirakan akan semakin meningkat.

Berdasarkan temuan tersebut, Irwan menilai, diperlukan kerja sama lintas disiplin dan lintas lembaga untuk mengatasi banjir di masa mendatang.

Ia menekankan bahwa masalah mengenai permukaan tanah yang turun tidak bisa diselesaikan oleh satu bidang ilmu, melainkan butuh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang