Tradisi Beresin Lemari Jelang Lebaran, Baju Layak Pakai Harus Diapain Ya?
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana rumah tangga di berbagai daerah kerap diwarnai aktivitas bersih-bersih besar. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum refleksi dan penataan ulang kehidupan, termasuk lingkungan tempat tinggal.
Tradisi merapikan rumah dan membereskan lemari pakaian menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari persiapan Lebaran. Scroll lebih lanjut yuk!
Banyak keluarga memanfaatkan momen ini untuk menyortir barang, memilah pakaian lama, hingga menata ulang ruang agar terasa lebih lapang dan nyaman saat menyambut tamu.
Kegiatan ini bukan hanya soal estetika atau kerapian semata. Membersihkan dan menata ulang isi rumah menghadirkan rasa segar, sekaligus simbol kesiapan menyambut hari kemenangan dengan hati dan ruang yang lebih bersih.
Lemari pakaian, khususnya, sering kali menjadi fokus utama. Tumpukan baju yang jarang dipakai, pakaian yang sudah tidak muat, atau busana yang terlupakan di sudut rak kembali diperiksa satu per satu. Dari proses inilah muncul pertanyaan klasik: pakaian yang masih layak pakai, sebaiknya diapakan?
Decluttering: Dari Sekadar Merapikan ke Aksi Bermakna
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah decluttering semakin populer. Konsep ini tidak hanya berarti menyingkirkan barang yang tidak terpakai, tetapi juga menata ulang kepemilikan secara lebih sadar.
Decluttering mendorong seseorang untuk mengevaluasi kebutuhan, mengurangi penumpukan, dan memastikan setiap barang yang dimiliki benar-benar memiliki fungsi.
Lebih jauh, proses memilah pakaian bisa menjadi langkah sosial yang berdampak. Alih-alih berakhir di tempat sampah, baju yang masih layak pakai dapat didonasikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dengan cara ini, pakaian tidak berhenti sebagai barang pribadi, melainkan menjadi bagian dari siklus manfaat yang lebih luas. Mengajak masyarakat melihat pakaian bukan sekadar benda yang disimpan atau dibuang, melainkan sesuatu yang bisa diperpanjang usia pakainya, diperbaiki, bahkan dibagikan kembali, menjadi langkah penting menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Pendekatan ini selaras dengan filosofi LifeWear yang diperkenalkan oleh UNIQLO. Konsep tersebut menekankan pentingnya menghadirkan pakaian esensial yang berkualitas dan tahan lama, sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu panjang. Dengan kualitas yang baik, pakaian tidak mudah rusak dan tidak cepat menjadi limbah tekstil. Hal ini mendukung praktik konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Memperpanjang Siklus Hidup Pakaian
Tak semua pakaian yang jarang dipakai harus langsung didonasikan atau dilepas. Ada kalanya sebuah busana masih memiliki nilai sentimental atau kualitas bahan yang baik, namun membutuhkan sentuhan baru. Dalam konteks ini, layanan perbaikan (repair) dan remake menjadi alternatif menarik.
Pakaian dapat diperbaiki bagian yang rusak, disesuaikan ukurannya, atau bahkan diberi detail tambahan seperti bordir dan teknik sashiko untuk menghadirkan tampilan yang lebih segar lewat Re.Uniqlo Studio.
Inisiatif semacam ini mendorong perubahan pola pikir: sebelum memutuskan melepas pakaian, selalu ada opsi untuk merawat dan memberinya kehidupan baru. Dengan demikian, tradisi membereskan lemari jelang Lebaran tidak hanya berhenti pada kegiatan tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan sadar untuk mengurangi limbah dan memperpanjang usia pakai pakaian.
“Sebagai perusahaan global yang menjalankan bisnis berbasis keberlanjutan, kami melihat mindful decluttering bukan hanya sebagai kampanye musiman, tetapi menjadi bagian dari komitmen kami terhadap circular fashion, dengan mengurangi limbah tekstil sekaligus mendorong kebiasaan konsumsi yang lebih bijak. Partisipasi masyarakat dalam program clothing donation, di mana pelanggan bisa mengumpulkan pakaian yang sudah tidak digunakan melalui recycle box yang ada di seluruh toko UNIQLO, akan memberi makna baru pada pakaian melalui donasi dan daur ulang. Dengan begitu, proses decluttering tidak berhenti pada membuang, tetapi berlanjut pada berbagi dan memperpanjang siklus hidup pakaian,“ ujar Michelle Secoa, Sustainability Lead UNIQLO Indonesia.
Selain itu, dibulan yang suci dan penuh berkah ini, UNIQLO akan mengadakan Hari Raya Clothing Donation Collection selama periode Ramadan 2026. Pakaian yang terkumpul dari hasil donasi pakaian bisa dimasukkan ke dalam recycle box yang tersedia di seluruh toko akan disalurkan kepada masyarakat kurang mampu dalam acara yang akan diselenggarakan pada bulan Mei 2026.
Pada akhirnya, beres-beres jelang Lebaran bukan sekadar rutinitas. Ia bisa menjadi langkah kecil menuju gaya hidup yang lebih reflektif, peduli sesama, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Jadi, ketika menemukan baju layak pakai di sudut lemari, mungkin inilah saatnya bertanya: siapa lagi yang bisa merasakan manfaatnya?