Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Semakin Dekat di Tengah Ancaman Militer

Iran, Donald Trump, nuklir Iran, Iran Sebut Kesepakatan dengan AS Semakin Dekat di Tengah Ancaman Militer

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa peluang tercapainya kesepakatan guna mencegah konflik militer dengan Amerika Serikat (AS) semakin terbuka. 

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang kelanjutan perundingan kedua negara yang selama ini berseteru.

Iran dan AS dijadwalkan menggelar pertemuan di Jenewa, Swiss dalam dua hari ke depan.

Perundingan Dapat Dicapai dengan Jalur Diplomasi

Pernyataan Abbas Araghchi muncul di tengah situasi domestik Iran yang diwarnai peringatan pemerintah kepada mahasiswa yang terus melakukan aksi protes. 

Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan dari AS terkait upaya penghentian program nuklir Teheran.

"Kita memiliki kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengatasi kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama," kata Araghchi, dikutip dari France24, Selasa (24/2/2026).

Ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut memungkinkan untuk diraih apabila jalur diplomasi tetap menjadi prioritas utama. 

Araghchi juga menegaskan komitmen bahwa Iran dalam keadaan apa pun tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Namun, Iran tetap memiliki hak untuk memanfaatkan keuntungan dari teknologi nuklir demi tujuan damai.

"Kami telah membuktikan bahwa kami tidak akan berhenti sampai kami berhasil menjaga kedaulatan kami dengan berani," tambahnya.

Trump Siapkan Opsi Militer jika Diperlukan

Sebelumnya, Iran dan AS telah menjalani lima putaran perundingan nuklir sepanjang tahun lalu. 

Namun, proses tersebut terhenti setelah serangan besar Israel terhadap Iran yang memicu konflik bersenjata selama 12 hari.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tetap mengedepankan diplomasi sebagai pilihan utama. 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer tetap menjadi opsi apabila diperlukan.

Seorang pejabat tinggi Iran juga mengungkapkan bahwa pemerintah negaranya mempertimbangkan sejumlah langkah kompromi, termasuk mengirim separuh stok uranium dengan tingkat pengayaan tertinggi ke luar negeri.

Langkah lainnya adalah mengencerkan sisa uranium serta berpartisipasi dalam pembentukan konsorsium pengayaan regional. 

Gagasan tersebut telah beberapa kali muncul dalam proses diplomasi terkait program nuklir Iran.

Langkah itu disebut dapat dilakukan apabila AS mengakui hak Iran untuk melakukan pengayaan nuklir secara damai serta mencabut sanksi ekonomi dalam kerangka kesepakatan yang lebih luas.

"Jika terjadi serangan atau agresi terhadap Iran, kami akan merespons sesuai dengan rencana pertahanan kami. Serangan AS terhadap Iran adalah pertaruhan yang nyata," jelas Takht-Ravanchi, dikutop dari Reuters, Selasa (24/2/2026).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang