Dugaan Penyebab Munculnya Lubang Sedalam 3 Meter di Depan Kantor Disdik Semarang

Fenomena jalan ambles di Semarang, Jawa Tengah sedang menyita perhatian publik.
Jalan ambles ini menciptakan lubang dengan diameter sekitar satu meter di depan Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, di Jalan Dr Wahidin No 118, Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari pada Minggu (22/2/2026) malam.
Lubang dengan kedalaman sekitar 3 meter itu berada tepat di akses masuk kantor Disdik sekaligus di ruas Jalan Citarum yang mengarah ke permukiman arah Sanggung.
Diberitakan , Wakil Wali Kota (Walkot) Semarang Iswar Aminuddin langsung meninjau ke lokasi setelah menerima informasi adanya kemunculan lubang di depan Kantor Disdik, pada Minggu sekitar pukul 22.00 WIB.
Iswar memastikan mitigasi dan penanganan infrastruktur dilakukan secara cepat guna menjamin keselamatan warga, khususnya di wilayah sekitar lubang.
Demi keamanan, area di sekitar lubang telah ditutup dan dipasangi garis pembatas oleh Satpol PP untuk mencegah kendaraan maupun pejalan kaki melintas.
Dugaan penyebab jalan ambles
Bersama tim teknis yang ada, Iswar mencari tahu apa penyebab munculnya lubang besar tersebut.
Dan berdasarkan pengamatan awal, kerusakan diduga terjadi pada saluran air di bawah permukaan yang tidak terdeteksi dari atas jalan.
“Kebetulan tadi dapat informasi bahwa ada jalan yang ambles. Saya tadi pikirnya laporan itu ada di depan Disdik. Setelah kita analisis, ada saluran di sana yang tidak tembus ke sini,” ujar Iswar.
Menurut analisis tim, tutup saluran diduga mengalami ambles dan patah, sehingga timbunan tanah di atasnya ikut ambles akibat gerusan air.
Iswar kemudian menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang untuk segera menyelesaikan perbaikan agar akses warga tidak terputus.
“Jadi, teman-teman PU besok (Senin) akan menyelesaikan karena ini memang ada jalan kampung dari atas sana, kalau putus kan kasihan,” ucapnya.
Ada perbedaan struktur di bawah tanah
Dilansir dari Antara, Kepala DPU Kota Semarang Suwarto mengungkap, saat menurunkan alat berat untuk membongkar badan jalan dan memeriksa struktur di bawahnya pada Senin (23/2/2026), ia menemukan ada ketidaksesuaian antara konstruksi boks culvert dan buis beton yang memicu munculnya rongga rembesan air.
“Kemungkinan di bawah ini ada crossing saluran, yang satu bentuknya boks culvert, yang satunya buis beton. Perbedaan bentuk itu bisa menimbulkan rongga. Dari situ diduga terjadi rembesan yang mengikis tanah. Tapi, ini masih dugaan awal, nanti kami pastikan setelah pembongkaran,” jelas Suwarto.
Perbedaan struktur seperti ini memicu timbulnya ruang kosong yang membuat gogosan tanah, terlebih saat hujan deras mengguyur.
Menurut Suwarto, DPU akan memperkuat konstruksi crossing saluran, serta menggantinya menjadi seragam jika diperlukan, agar tidak terjadi rembesan di kemudian hari.
"Nanti kalau memang boks, ya nanti kita bentuknya boks semua kotak. Jadi, tidak satu boks, satunya buis. Ini yang jadi tidak sama yang bentuknya, kotak sama bulat kan beda. Berarti ada rongga. Ini yang menjadikan kemungkinan di situ ada rembesan yang masuk," katanya.
Untuk pembenahan lubang jalan tersebut, ada kemungkinan bangunan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar lokasi akan dibongkar agar perbaikan bisa dilakukan secara maksimal.
"Makanya ini ada hambatan, PKL yang tidak digunakan, nanti akan kita lakukan pembongkaran juga. Nanti biar sekalian (perbaikan) tuntas di sana," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang