Mengenal Apa Itu Padusan, Makna, dan Sejarahnya...

padusan, Mengenal Apa Itu Padusan, Makna, dan Sejarahnya...

Sebagian masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan DIY memiliki tradisi unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan, salah satunya yakni padusan.

Tak kalah dengan ngabuburit, tradisi padusan ini identik dengan mandi bersama di sumber air, sehari sebelum puasa dimulai.

Diketahui, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2/2026). 

Makna padusan

Padusan dimaknai sebagai simbol membersihkan diri, lahir dan batin sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi padusan, bahkan saat ini sudah menjadi komoditas pariwisata tahunan di tengah-tengah masyrakat.

Lantas, apa itu padusan?

Apa itu padusan...

padusan, Mengenal Apa Itu Padusan, Makna, dan Sejarahnya...

Tradisi Padusan di Umbul Manten, Klaten, Rabu (22/3/2023).

Istilah padusan berasal dari bahasa Jawa "adus" yang berarti mandi.

Makna padusan bagi masyarakat Jawa yakni membersihkan/menyucikan diri serta membersihkan aspek lahir dan batin dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Dalam aktivitasnya, masyarakat akan ramai-ramai melakukan mandi di sebuah sungai, kolam, renang, atau obyek mata air setempat dengan anggapan dapat membersihkan dosa-dosa di masa lalu demi bulan suci Ramadhan.

Dari sudut pandang budaya, padusan merupakan tradisi mandi besar sebagai simbol penyucian diri, dikutip dari Gramedia.

Tidak ada aturan baku dalam pelaksanaannya. Ada yang cukup mandi biasa dengan niat membersihkan diri, ada pula yang melakukannya dengan prosesi tertentu.

Jejak sejarah dari masa kerajaan

Padusan diketahui bukanlah tradisi baru. Praktik mandi besar untuk penyucian ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit.

Waktu itu, para ksatria, brahmana, hingga empu melakukan ritual serupa sebagai bentuk penyucian spiritual.

Tradisi ini disebut sebagai hasil adopsi budaya Hindu, Buddha, dan animisme yang berkembang di Pulau Jawa sebelum Islam masuk.

Dan ketika Islam masuk dan mulai menyebar, para Wali Songo memadukan tradisi tersebut dengan nilai-nilai Islam.

Maknanya pun bergeser menjadi pengingat bahwa sebelum memohon rahmat Tuhan, manusia sebaiknya membersihkan diri terlebih dahulu, baik secara fisik maupun spiritual.

Perubahan makna

padusan, Mengenal Apa Itu Padusan, Makna, dan Sejarahnya...

Warga Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, berebut gunungan dalam memeriahkan tradisi budaya luhur Padusan menyambut bulan suci Ramadan di umbul kemanten desa setempat, Jumat (8/3/2024).

Seiring berjalannya waktu, padusan mulai mengalami perubahan/pergeseran makna.

Di era modern, banyak masyarakat yang memaknainya sebagai kegiatan rekreasi berenang bersama keluarga atau teman.

Hal senada juga diungkapkan oleh budayawan dari UGM Rudy Wiratama.

Dikutip Kompas.com (25/2/2025), dari aspek sejarah, dalam agama Islam tidak mengenal adanya tradisi padusan.

Tradisi padusan dikenal dalam kebudayaan masyarakat Jawa pra-Islam yang dikenal dengan adanya ritual mandi setiap kali akan memulai puasa.

"Misalnya puasa mutih, ngrowot, dan ngebleng, biasanya diawali dan diakhiri dengan mandi," kata dia.

Sepengetahuannya, tujuan masyarakat Jawa melakukan tradisi padusan yakni untuk mempersiapkan lahir dan batin dalam menjalankan gemblengan baik secara fisik maupun spiritual.

Sementara itu, lanjut Rudy, pada era Hindu-Buddha ada yang menyebut sebagai Dewa Sraya yang berarti mandi keramas dengan tujuan menghilangkan dosa.

"Salah satu literatur yang menyebutkan kata-kata Dewa Sraya itu adalah Kakawin Bharatayuddha dari zaman Raja Jayabaya sekitar tahun 1135-1157 Masehi," katanya lagi.

Agenda wisata budaya

Tradisi tersebut kemudian berubah seiring Islam masuk ke Jawa.

Ajaran Islam yang sangat kental beraliran ahlussunah wal jamaah disebarkan dengan corak tasawuf.

"Di situ ada kaidah yang berbunyi, kedatangan agama Islam di pulau Jawa itu menjaga tradisi lama yang baik dan mengubahnya kalau ada tradisi baru yang lebih baik," terang Rudy.

Oleh karena itu, tradisi padusan yang dipandang baik kemudian dipertahankan untuk mempersiapkan lahir batin di bulan Ramadhan akhirnya diteruskan.

Kini, dengan masih berlangsungnya tradisi padusan. Obyek wisata pun ikut terdampak.

Tempat seperti Umbul Manten, Pemandian Cokro Tulung dan tempat obyek wisata air lainnya selalu dipadati pengunjung menjelang Ramadhan tiba.

Tak hanya warga lokal, masyarakat dari luar daerah pun ikut berbondong-bondong melakukan tradisi padusan.

Sejumlah daerah pun menjadikan momentum padusan sebagai agenda wisata budaya.

Oleh karena itu, tidak heran ada hiburan seperti pertunjukan dangdut, atraksi reog, hingga karnaval kebudayaan untuk meramaian suasana saat tradisi padusan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang