Orang Basudara, Laboratorium Hidup Perdamaian di Bumi Rempah
'Orang Basudara', bukan sekadar istilah ungkapan persaudaraan, melainkan filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi bagi masyarakat Maluku. Mereka hidup di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Nilai ini menjadi fondasi sosial yang menjaga harmoni masyarakat di wilayah yang sejak dahulu dikenal sebagai 'Surganya' Rempah.
Konsep orang basudara lahir dari kearifan lokal yang menempatkan hubungan kemanusiaan di atas sekat identitas. Warga memaknai perbedaan sebagai kekuatan kolektif, bukan ancaman. Nilai ini tampak dalam berbagai praktik keseharian, mulai dari gotong royong, saling menjaga saat perayaan keagamaan, hingga solidaritas saat bencana melanda.
Tak berlebihan jika para tokoh dan akademisi menyebut Maluku sebagai "laboratorium hidup perdamaian" karena masyarakatnya berhasil merawat rekonsiliasi pascakonflik sosial di awal 2000-an.
Proses penyembuhan tidak hanya dilakukan melalui kebijakan formal, tetapi juga lewat pendekatan budaya yang menekankan persaudaraan. Tradisi pela gandong -- misalnya, mengikat desa-desa dengan latar agama berbeda dalam hubungan kekeluargaan yang kuat.
Di Ambon dan wilayah sekitarnya, semangat orang basudara kerap terlihat dalam ruang publik. Komunitas pemuda lintas iman aktif menggelar dialog, kegiatan seni, hingga aksi sosial bersama. Sekolah dan kampus juga mulai memasukkan nilai toleransi berbasis kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Sekda Provinsi Maluku Sadali Le di seminar LKLB di Kota Ambon, Kamis, 12/2
Semangat membangun perdamaian dengan menjaga nilai-nilai kearifan lokal itu pula yang ingin terus didorong melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diinisiasi Institut Leimena, bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan yang ada di Maluku.
Para tokoh masyarakat menilai menjaga semangat perdamaian ini menjadi tantangan di era digital ketika arus informasi bergerak cepat dan kerap memicu polarisasi. Karena itu, generasi muda terus didorong untuk memahami warisan leluhur yang luar biasa, yaitu semangat hidup "Orang Basudara" sebagai sebuah jati diri. Perbedaan agama dan suku seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan perekat dan tidak mudah terprovokasi isu yang memecah belah.
"Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak sekadar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain. Di sinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya, dan merupakan kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang dilandasi rasa hormat dan empati," kata Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Provinsi Maluku, Sadali Le dalam seminar bertemakan 'Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)' di Kota Ambon, Kamis, 12 Februari 2026.
Senada dengan itu, Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena merupakan panggilan moral jati diri bangsa dan nilai kederahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.
"Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama," kata Bodewin.
Wajah Damai Maluku
Bodewin menegaskan Literasi Keagamaan Lintas Budaya bukan mencampuradukkan keyakinan, melainkan memahami nilai-nilai universal kemanusiaan tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan, dan membangun ruang dialog antar agama.
"Kita tidak boleh tutup mata atas realitas saat ini, seperti fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi terus tumbuh di kota ini, yang tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kita harus hidupkan semangat hidup Orang Basudara yang secara konkret melalui pendekatan LKLB," ujar Bodewin.
Komitmen pemerintah daerah pun berupaya memperkuat citra Maluku sebagai daerah yang aman dan inklusif dengan mendorong kearifan lokal sebagai sarana memperkenalkan wajah damai Maluku kepada dunia, serta memperkuat identitas kolektif sebagai masyarakat yang hidup dalam semangat persaudaraan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
Khusus di Ambon, kata dia, program LKLB dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai "UNESCO City of Music".
Sebanyak 16 guru alumni LKLB beragama Islam dan Kristen yang menyanyikan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, yakni lagu berbahasa Maluku bertemakan perdamaian. "Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara," ujar Matius.