Maluku Perkuat Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Sekolah Didorong Jadi Ruang Tumbuh Toleransi
Praktik Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) menjadi strategi pendidikan untuk memperkuat toleransi dan kohesi sosial di Maluku. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku bersama Institut Leimena mendorong integrasi pendekatan tersebut ke dalam sistem pendidikan, seiring realitas kemajemukan daerah yang memiliki ratusan sekolah multikomunitas agama.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin menilai pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni sosial di wilayah kepulauan yang plural. Ia menyebutkan, keberadaan 283 sekolah multikomunitas agama serta pengalaman sejarah konflik berbasis identitas menjadi alasan kuat pentingnya pemahaman LKLB bagi tenaga pendidik dan peserta didik.
"Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi," kata Sarlota dalam seminar 'Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)' di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri sekitar 150 guru dan kepala sekolah.
Menurutnya, komitmen Maluku sebagai laboratorium hidup Orang Basudara perlu diperkuat melalui penyebaran praktik baik yang telah dilakukan para alumni program LKLB. Secara nasional, program ini berjalan lebih dari empat tahun sejak 2021, sementara di Maluku program LKLB untuk Perdamaian telah berlangsung dua tahun dengan total 175 alumni guru dan kepala sekolah.
"Kami ingin terus membagikan contoh praktik LKLB yang dapat diadaptasi di sekolah dan mendorong upaya integrasi LKLB ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku," ujarnya.
Sarlota menegaskan bahwa penguatan karakter menjadi fokus utama kolaborasi tersebut. "Kami berterima kasih karena momen besar ini diusung oleh Institut Leimena melalui pelaksanaan seminar hari ini sebagai bentuk perwujudan nyata yang harus diwujudkan di tingkat pendidikan, yaitu karakter anak manusia," ungkapnya
Ia menambahkan, pembangunan Maluku yang maju harus dimulai dari pembentukan karakter pendidik dan peserta didik. Pemerintah daerah, lanjutnya, akan menopang implementasi LKLB melalui suplemen atau insersi kurikulum pada jenjang SMA, SMK, dan SLB, melanjutkan program yang sebelumnya telah diterapkan pada guru SD dan SMP.
"Kami mempertegas bahwa Maluku yang maju dimulai dari karakter yang kuat, baik karakter pendidik maupun karakter anak-anak, sehingga berdampak pada generasi Indonesia, generasi Maluku yang cerdas menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong sekolah-sekolah untuk menjadi ruang aman dan nyaman bagi siswa, termasuk di wilayah terpencil. Sarlota mengungkapkan bahwa dinamika sosial seperti kasus tawuran pelajar menjadi perhatian serius sehingga pesan damai dan toleransi perlu digaungkan di seluruh sekolah, tanpa memandang latar belakang agama.
"Kami menginisiasi agar seluruh sekolah di Provinsi Maluku, baik SMA, SMK, maupun SLB, menggaungkan pesan damai dan toleransi. Ini bukan hanya untuk sekolah berbasis agama, tetapi semua sekolah," katanya.
Ke depan, Dinas Pendidikan Maluku berencana menghadirkan sekolah model sebagai proyek percontohan penerapan LKLB. Melalui langkah ini, pemerintah berharap lahir generasi muda yang aktif mengampanyekan perdamaian serta berkontribusi pada kemajuan daerah. "Kita berkomitmen Maluku harus menjadi baik dimulai dari anak-anak," ungkap Sarlota
LKLB Strategi ASEAN
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
"Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan," kata Matius Ho.
Matius menjelaskan program LKLB banyak bekerjasama dengan pemerintah pusat, terutama Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang pada intinya bagaimana program ini membantu upaya pemerintah dalam memperkuat karakter bangsa dan mencapai kemajuan Indonesia.
"Karena itu kami sangat senang dan berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon yang sangat mendukung pelaksanaan yang lebih terstruktur, sistematis, dan terintegrasi melalui bidang pendidikan di Provinsi Maluku," ujarnya
Matius menambahkan Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, LKLB secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.
Bulan November kemarin, misalnya, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon.
"Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara," ujar Matius.