Mengatasi Fenomena ‘Gunung Es’ Kekerasan Online
Aplikasi ini dirancang tidak hanya sebagai ruang belajar digital, tetapi juga sebagai ruang aman digital yang inklusif bagi perempuan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Sedangkan, website Sisternet dihadirkan kembali dengan tampilan yang informatif dan update.
Peluncuran ini dilatarbelakangi oleh masih lebarnya kesenjangan digital gender, dengan gap penggunaan internet mencapai 21 persen, rendahnya partisipasi perempuan dalam literasi digital, serta tingginya angka kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang tercatat sebanyak 1.791 kasus pada 2024.
Director and Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, mengaku jika peluncuran fitur baru Aplikasi Sisternet adalah komitmen memperkuat ruang aman digital para perempuan.
"Kami percaya bahwa akses terhadap literasi dan keterampilan digital harus dibarengi dengan perlindungan yang memadai, agar perempuan dapat berpartisipasi secara aktif, aman, dan berdaya di ekosistem digital nasional," katanya di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.
Merza menambahkan melalui integrasi fitur DigiHer dan Ruang Aman Sister, Sisternet kini tidak hanya menjadi platform pembelajaran, tetapi juga ekosistem pendukung yang menghubungkan pelatihan, komunitas, dan kanal perlindungan dalam satu aplikasi.
Pada versi terbarunya, Sisternet menghadirkan penguatan fungsi strategis dengan mengintegrasikan berbagai fitur penting. Aplikasi ini kini menjadi pusat pembelajaran, jejaring, sekaligus perlindungan digital bagi perempuan Indonesia agar dapat berpartisipasi secara aman dan produktif di ruang digital.
Berbeda dengan versi sebelumnya yang fokus pada literasi digital dan komunitas perempuan, Sisternet versi terbaru menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif.
Penguatan fitur strategis, integrasi layanan nasional, serta positioning sebagai platform digital yang aman dan inklusif menjadi pembeda utama dari versi terdahulu.
Hingga saat ini, aplikasi Sisternet telah diunduh oleh lebih dari 1,6 juta pengguna. Ke depan, XLSmart menargetkan 2,4 juta perempuan Indonesia go digital hingga akhir 2026.
"Kami berharap dapat berkontribusi terhadap target nasional 9 juta talenta digital di tahun 2030, serta mendorong peran aktif perempuan dalam ekonomi dan kreativitas digital," jelas Merza.
Salah satu pembaruan utama adalah integrasi fitur DigiHer, yang terhubung langsung dengan program Digital Talent Scholarship dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
Melalui fitur ini, perempuan dapat mengakses pelatihan keterampilan digital nasional untuk meningkatkan kapasitas, daya saing, dan peluang ekonomi di era digital.
Selain itu, fitur Ruang Aman Sister juga mengintegrasikan SAPA 129, yaitu kanal resmi pelaporan kekerasan berbasis gender online. Kehadiran fitur ini memperkuat peran Sisternet, di mana perempuan dapat memperoleh akses bantuan dan perlindungan dengan lebih mudah dan tepercaya.
Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KPPPA, Desy Andriani, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, integrasi Lapor SAPA 129 ke Sisternet secara signifikan memperluas jangkauan layanan pengaduan bagi perempuan melalui satu platform yang sudah banyak digunakan.
Berdasarkan SPHPN 2024, tercatat 7,5 persen perempuan di Indonesia pernah mengalami Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE), dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia muda (15-24 tahun).
"Kekerasan kini berpindah ke ruang digital yang sering tidak terlihat. Ini bukan sekadar integrasi atau penggabungan sistem, melainkan penyatuan ekosistem perlindungan dan pemberdayaan untuk bergerak bersama mengatasi fenomena ‘gunung es’ kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia," papar Desy.