Sisternet Jadi Senjata Perempuan RI Taklukkan Dunia Digital
Data Badan Pusat Statistik atau BPS 2024 mencatat bahwa sekitar 64,5 persen pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia adalah perempuan.
Mereka tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi keluarga melalui berbagai usaha kecil dan mikro.
Namun, di balik potensi tersebut, banyak perempuan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap edukasi digital, literasi bisnis, dan teknologi pemasaran.
Tantangan inilah yang kemudian berusaha dijawab PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk melalui Sisternet.
Gerakan ini sebelumnya berhasil menjangkau 1,3 juta perempuan di seluruh Indonesia sebagai wadah edukasi dan literasi digital.
Sisternet merupakan hasil kolaborasi antara XLSmart dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), dan Motorola.
Direktur Utama dan Kepala Eksekutif XLSmart Rajeev Sethi meyakini bahwa teknologi dan inovasi dapat menjadi kekuatan pendorong untuk perubahan positif.
Sisternet bukan hanya menyediakan akses informasi dan edukasi, tapi juga membangun jaringan dan kesempatan yang dapat menginspirasi perempuan untuk mencapai potensi penuh.
"Kami berharap dapat membuka lebih banyak peluang dan memotivasi perempuan Indonesia untuk meraih potensi penuh mereka dan berkontribusi pada kemajuan ekonomi digital serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat," ungkapnya di Jakarta, Minggu, 19 Oktober 2025.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri Fauzi mengapresiasi XLSmart atas konsistensinya dalam mengembangkan program Sisternet sebagai ruang aman, ruang belajar, dan ruang pemberdayaan bagi jutaan perempuan Indonesia.
Inisiatif seperti Sisternet membuktikan bahwa sektor swasta dapat menjadi agen perubahan sosial yang nyata.
Melalui program ini, perempuan tidak hanya memperoleh akses terhadap literasi digital, tetapi juga dukungan untuk mengembangkan kreativitas, kemandirian, dan daya saing di tengah transformasi teknologi yang begitu cepat.
Pemberdayaan ekonomi perempuan merupakan agenda strategis nasional yang harus terus diperkuat di era digital.
Dari 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, baru sepertiganya yang telah memanfaatkan teknologi digital.
Potensi besar ini hanya bisa diwujudkan jika perempuan diberi akses yang setara terhadap teknologi, pelatihan, dan jaringan pasar yang inklusif.
"Ketika perempuan berdaya dan anak-anak terlindungi, Indonesia akan melangkah lebih pasti menuju Indonesia Emas 2045," tutur dia.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menambahkan jika peningkatan partisipasi perempuan dalam ekosistem digital merupakan bagian penting dari agenda nasional Sembilan Juta Talenta Digital 2030.
“Kami menargetkan terbentuknya sembilan juta talenta digital pada 2030. Perempuan harus menjadi bagian utama dari agenda ini karena teknologi membuka ruang tanpa batas bagi mereka untuk berkarya, berbisnis, dan berekspresi," jelasnya.