Bukan Sekadar Seremoni, Peran Perempuan Jadi Kunci Pembudayaan Nilai Pancasila

Ilustrasi ibu dan anak
Ilustrasi ibu dan anak

Peringatan Hari Ibu kini semakin dimaknai sebagai momentum refleksi tentang peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar perayaan simbolik. Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, perempuan hadir sebagai figur sentral dalam keluarga, pendidikan, dan komunitas. 

Dari cara menanamkan nilai pada anak hingga membangun kepedulian di lingkungan sekitar, perempuan berkontribusi besar dalam membentuk karakter dan arah masa depan masyarakat. Peran ini kerap berlangsung secara alami, namun dampaknya nyata dan berkelanjutan.

Dalam konteks gaya hidup modern, perempuan juga semakin aktif mengambil peran sebagai pendidik nilai, pemimpin informal, hingga penggerak sosial yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari. Kepekaan terhadap lingkungan, kemampuan merawat relasi sosial, serta keteguhan dalam memegang nilai menjadikan perempuan sebagai pilar penting dalam membangun kohesi sosial dan peradaban yang beradab. 

Peran ini tak selalu hadir di ruang formal, tetapi tumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten dilakukan. Kesadaran akan peran strategis tersebut sejalan dengan semangat yang diusung Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam peringatan Hari Ibu 2025. 

Melalui Lokakarya Tematik bertema “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran strategis perempuan dalam membangun tatanan sosial, pendidikan, dan peradaban bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Lokakarya diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen BPIP dalam membumikan Pancasila secara kontekstual dan inklusif, khususnya melalui pemberdayaan perempuan sebagai pendidik, pemimpin komunitas, dan penggerak sosial di berbagai lapisan masyarakat. Peringatan Hari Ibu dimaknai tidak sekadar sebagai seremoni, melainkan momentum mendorong aksi nyata dalam memperkuat pendidikan karakter dan kohesi sosial.

Kepala BPIP, Prof. Yudian Wahyudi, menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar teks atau simbol formal, melainkan fondasi moral, pemersatu bangsa, dan pedoman etis yang harus hidup dalam praktik sosial, pendidikan, serta kebijakan publik.

"Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata. Pembinaan ideologi Pancasila perlu menyentuh ruang- ruang kehidupan masyarakat, bersifat kontekstual, inklusif, serta menghormati kearifan lokal yang selama ini menjadi perekat komunitas,” ujar Yudian.

Ia juga menekankan bahwa peringatan Hari Ibu harus menjadi awal dari langkah konkret yang berkelanjutan.

"Peringatan Hari Ibu ini harus kita maknai sebagai titik awal langkah nyata, bukan sekadar seremoni. Dengan memperkuat kapasitas perempuan dan menghadirkan Pancasila dalam pendidikan serta kehidupan sosial, kita sedang menyiapkan fondasi kokoh bagi generasi yang berdaya dan beretika menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala BPIP Rima Agristina menyampaikan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam proses pembudayaan Pancasila karena kedekatannya dengan lingkungan keluarga, pendidikan, dan komunitas.

"Perempuan adalah agen perubahan nilai. Melalui peran sebagai pendidik, pengasuh, dan pemimpin komunitas, perempuan mampu menerjemahkan Pancasila ke dalam praktik sehari-hari yang konkret dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tutur Rima.

Lokakarya

Lokakarya

Melalui lokakarya tematik ini, BPIP mendorong lahirnya langkah-langkah konkret, mulai dari penguatan kapasitas perempuan, pengembangan modul pembelajaran ramah gender dan berbasis budaya lokal, hingga inisiatif kolaboratif di lingkungan sekolah dan komunitas.

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam meneguhkan Pancasila sebagai jati diri bangsa, sekaligus mempersiapkan generasi yang berdaya, berkarakter, dan siap menjawab tantangan masa depan menuju Indonesia Emas 2045.