PHK di Mana-mana! WEF Ungkap Realita Baru Dunia Kerja, Seperti Apa? 

Ilustrasi bekerja.
Ilustrasi bekerja.

 Pemutusan hubungan kkerja (PHK) kini terasa seperti adegan rutin dalam dunia kerja modern. Angka diumumkan, pernyataan resmi disampaikan, lalu publik seolah diminta menerima bahwa kariernya selesai di situ. 

Namun di balik kasus PHK, ada proses yang jauh lebih panjang dan rumit. Dunia kerja hari ini tidak sedang menyusut secara sederhana, melainkan sedang mengalami pergeseran besar yang jarang dibahas secara utuh.

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) menggambarkan perubahan ini dengan data yang dingin namun menggelisahkan. Dalam lima tahun ke depan, dunia kerja tidak akan didominasi oleh pekerjaan yang lenyap, melainkan berpindah. 

Hingga 2030, WEF memperkirakan akan tercipta 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta pekerjaan lainnya terdampak atau tergeser. Hasil akhirnya adalah kenaikan bersih 78 juta pekerjaan, dengan total perombakan setara 22 persen dari seluruh pekerjaan formal yang ada saat ini.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa fokus utama bukan pada kehilangan pekerjaan semata, melainkan pada skala perombakan pasar kerja. WEF menyebutnya sebagai “structural labour market churn”, sebuah kondisi di mana penciptaan dan penghapusan pekerjaan terjadi bersamaan dalam skala besar. 

Teknologi memainkan peran ganda dalam proses ini. WEF mencatat bahwa perluasan akses digital diperkirakan menciptakan 19 juta pekerjaan, namun sekaligus menggantikan 9 juta pekerjaan lainnya. 

"AI dan teknologi pemrosesan informasi diprediksi menciptakan 11 juta pekerjaan, namun juga menggeser 9 juta pekerjaan. Sementara itu, robotika dan sistem otonom disebut sebagai kekuatan yang paling jelas menggantikan tenaga kerja, dengan penurunan bersih sekitar 5 juta pekerjaan," demikian laporan WEF sebagaimana dikutip dari Times of India, Senin, 26 Januari 2026.

Dengan kata lain, yang terjadi bukan “AI mengambil pekerjaan”, melainkan “AI mengubah peta tugas dengan sangat cepat”. Beberapa peran menjadi tidak relevan, sementara peran lain yang berdekatan justru berkembang.

Peran yang paling rentan biasanya adalah pekerjaan dengan tugas yang berulang, mudah distandardisasi, dan bisa dijadikan template. Ketika sebuah tugas dapat dipaketkan secara rapi, tugas tersebut bisa diotomatisasi, disentralisasi, atau ditanamkan langsung ke dalam perangkat lunak. 

Akibatnya, sebuah jabatan bisa menghilang tanpa aktivitas dasarnya benar-benar lenyap. Inilah sebabnya gelombang PHK sering kali menimpa jenis pekerjaan yang sama di berbagai industri.

Pada tahun survei 2025, para pemberi kerja memperkirakan bahwa 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah dalam lima tahun ke depan. Ini bukan sekadar pembaruan kecil, melainkan perubahan besar dalam standar kelayakan kerja.

“PHK tidak selalu menjadi vonis atas nilai seseorang. Sering kali, itu adalah vonis atas kesediaan organisasi untuk melatih ulang, memindahkan, atau merancang ulang,” tulis WEF. 

Pada banyak kasus, perusahaan memilih menghapus peran dan merekrut profil keterampilan baru karena proses transisi dinilai terlalu mahal atau terlalu lambat. WEF juga menyoroti keterampilan yang semakin bernilai di tengah perubahan ini. 

Berpikir analitis tetap menjadi keterampilan inti paling penting, diikuti oleh ketahanan, fleksibilitas, dan kelincahan, serta kepemimpinan dan pengaruh sosial. Untuk keterampilan yang sedang naik daun, AI dan big data berada di posisi teratas, disusul keamanan siber, literasi teknologi, berpikir kreatif, rasa ingin tahu, dan pembelajaran seumur hidup.