Sejarah Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi yang Diperingati Setiap Tanggal 5 Februari

peristiwa pemberontakan kapal tujuh provinsi, Sejarah Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi yang Diperingati Setiap Tanggal 5 Februari

Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi diperingati pada tanggal 5 Februari setiap tahunnya di Indonesia.

Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi adalah momen pemberontakan di kapal De Zeven Provinciën (tujuh provinsi), salah satu kapal terbesar milik pemerintah Hindia Belanda.

Kapal ini dipergunakan sebagai kapal latih di mana para pelaut pribumi mendapatkan pendidikan praktik di kapal tersebut.

Para pelaut pribumi mendapatkan pendidikan praktik di kapal ini setelah menempuh pendidikan di Pendidikan Dasar Pelaut Pribumi (Kweekschool voor Inlandse Schepelingen [KIS]) di Makassar.

Lantas, bagaimana sejarah peristiwa pemberontakan kapal tujuh provinsi?

Latar belakang Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Peristiwa pemberontakan Kapal Tujuh Provinsi diketahui dipicu protes terhadap pengurangan gaji yang ditetapkan Gubernur Jenderal B.C. De Jonge.

Sebab kebijakan tersebut bertepatan dengan krisis ekonomi yang melanda seluruh lapisan masyarakat Hindia Belanda.

Awalnya Pemerintah Hindia-Belanda membuat keputusan untuk melakukan pengurangan gaji sebanyak 7 persen, termasuk bagi anggota marinir pribumi.

Keputusan tersebut diumumkan pada 26 Januari dan 30 Januari 1933. Banyak pihak keberatan karena sebelumnya gaji telah dua kali diturunkan, masing-masing sebesar 5 persen.

Keputusan pengurangan gaji tersebut memicu pemogokan kerja di kapal-kapal maupun di lembaga-lembaga marinir di darat pada 30 Januari 1933, disusul anggota pribumi pada 3 Februari 1933.

Tidak berhenti di mogok kerja, kondisi ini juga menimbulkan pikiran di sekelompok kecil pribumi dalam kapal De Zeven Provinciën untuk membajak dan melayarkan kapal ke Surabaya sebagai bentuk protes.

Saat itu De Zeven Provinciën tengah membawa awak kapal yang terdiri dari 141 Eropa dan 256 orang pribumi.

Pemberontakan awak kapal Tujuh Provinsi

Pada 4 Februari 1933, rencana-rencana pemberontakan di kapal De Zeven Provinciën itu semakin jelas dari sekelompok pribumi yang dipimpin Paradja dan Kawilarang.

Paradja berhasil menguasai kunci rak senjata dan lemari tempat menyimpan amunisi, sementara Kawilarang kemudian memberi aba-aba dimulainya pemberontakan yang dilakukan lebih awal dari rencana.

Dalam ketegangan tinggi, mereka berhasil menguasai persenjataan serta masuk ruang mesin dan berhasil membuat kapal siap berlayar.

De Zeven Provinciën kemudian mulai berlayar melalui pantai barat Sumatera dengan tujuan menuju ke Surabaya.

Pada 5 Februari 1933, disusun telegram dalam bahasa Belanda dan Inggris yang menyatakan:

Kapal dikuasai para awak dan berlayar menuju Surabaya. Sehari sebelum merapat komando akan diserahkan pada komandan. Kami memprotes pengurangan gaji yang tidak adil, dan menuntut pembebasan langsung rekan kami yang ditahan tiga hari yang lalu. Di kapal semua dalam keadaan baik, tidak ada kekerasan dan tidak ada yang terluka.

Komandan De Zeven Provinciën dan para petinggi marinir di Batavia dan Surabaya sangat geram dengan kejadian ini.

Para komandan bersama-sama awak De Zeven Provinciën yang tertinggal secepat mungkin menyusul menggunakan kapal uap milik pemerintah, De Aldebaran.

Tak berselang lama, De Aldebaran dan De Zeven Provinciën akhirnya saling berhadapan. Namun De Zeven Provinciën, di bawah komando Kawilarang, memberikan isyarat peringatan akan menembak semua kapal jika mendekat.

Kapal De Zeven Provinciën diserang

Pada 7 Februari 1933, kapal De Aldebaran digantikan oleh De Eridanus dan pada 9 Februari digantikan lagi oleh De Orion.

Mereka memutuskan untuk menyerang kapal De Zeven Provinciën tepat sebelum mereka memasuki Selat Sunda.

Konfrontasi terhadap pemberontakan di kapal De Zeven Provinciën terjadi pada hari Jumat, 10 Februari 1933 yang dilakukan dari udara.

Pesawat Dornier D 11 kemudian menjatuhkan bom 50 kilogram dari ketinggian 1.200 meter yang mengenai titik di dekat anjungan De Zeven Provinciën dan langsung meledak.

Akibat serangan tersebut, kapal mengalami kerusakan pada beberapa bagian dan menelan banyak korban jiwa akibat ledakan bom.

Sebanyak 19 orang tewas yang terdiri dari 3 orang Eropa dan 16 pribumi, termasuk di antaranya Paradja dan beberapa pemuka pemberontak.

Selain itu 11 orang luka berat yang terdiri dari 3 orang Eropa dan 8 orang pribumi, di mana empat orang di antaranya kemudian tewas.

Ada juga tujuh orang yang luka ringan, yaitu 2 orang Eropa dan lima orang pribumi. Kapal De Zeven Provinciën kemudian menyerah dan berlayar menuju pulau Onrust, dan para pemberontak ditahan.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, tanggal 5 Februari dipilih sebagai Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang