Bahlil: Hilirisasi Baterai EV Harus Jadi Pengungkit Teknologi Industri Nasional

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

 Pengembangan kendaraan listrik tidak lagi hanya berbicara soal adopsi produk di pasar, tetapi juga tentang penguasaan teknologi dan rantai pasok industri di baliknya. Di tengah kompetisi global industri baterai, Indonesia mempercepat pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu ke hilir sebagai strategi jangka panjang memperkuat basis teknologi industri nasional.

Pemerintah menempatkan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda hilirisasi mineral yang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dan memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok global. Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD), yang diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama industri baterai nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah mendorong pembangunan ekosistem industri baterai secara menyeluruh, mulai dari sektor pertambangan nikel, fasilitas smelter, teknologi high pressure acid leaching (HPAL), hingga produksi komponen utama baterai seperti precursor, katoda, dan sel baterai. Pendekatan terintegrasi ini dinilai krusial untuk memastikan Indonesia tidak berhenti pada posisi sebagai pemasok bahan baku.

Bahlil mengungkap nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 8 miliar. Pengembangan fasilitas baterai tahap awal dengan kapasitas 10 gigawatt (GW) telah beroperasi sejak 2023. Selanjutnya, kapasitas produksi direncanakan bertambah 20 GW, sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing Indonesia dalam industri baterai dan kendaraan listrik global.

Menurut Bahlil, penguatan rantai industri baterai memiliki implikasi yang luas, tidak hanya pada peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan ketahanan energi nasional. Pemerintah pun menargetkan kepemilikan mayoritas proyek tetap berada di tangan negara, dengan porsi di atas 50 persen, bahkan pada kisaran 60–70 persen.

“Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya Senin 2 Februari 2026.

Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku nikel yang menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik. Pasokan nikel tersebut akan melibatkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) yang berkolaborasi dalam konsorsium pengembangan proyek. Skema ini diposisikan sebagai implementasi pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi negara.

Dari sisi pengembangan teknologi, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menilai kerja sama dengan Huayou sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi sekaligus membangun kemandirian teknologi baterai di dalam negeri. Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari proyek pengembangan sebelumnya dan diarahkan untuk memperkuat fondasi industri baterai nasional.

Aditya menekankan bahwa proyek ini tidak semata mengejar kapasitas produksi, tetapi juga diarahkan pada penguasaan teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Melalui kemitraan tersebut, Indonesia diharapkan memperoleh proses pembelajaran yang memungkinkan industri nasional naik kelas, dari penjual sumber daya menjadi produsen baterai berbasis teknologi.