Krisis Helium Menghantui, Industri Teknologi dan Medis Mulai Terganggu
Krisis helium global mulai mengganggu rantai pasok industri teknologi dan medis. Gangguan ini dipicu konflik di Timur Tengah yang membatasi produksi dan distribusi gas tersebut, terutama dari kawasan Teluk.
Helium sendiri merupakan komponen penting dalam industri semikonduktor. Gas ini digunakan dalam proses pendinginan, deteksi kebocoran, dan manufaktur presisi dalam pembuatan chip.
Sejumlah pelaku industri menyebut pasokan yang semakin ketat telah mulai memengaruhi produksi. “Kekurangan helium adalah kekhawatiran yang sangat serius,” ujar mitra senior di perusahaan konsultan rantai pasok Tidal Wave Solutions, Cameron Johnson, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Rabu, 6 Mei 2026.
“Jika terjadi kekurangan, perusahaan mungkin mulai memperlambat produksi atau bahkan menghentikan produksi, termasuk pembuatan chip,” ungkapnya.
Johnson memperingatkan dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor. Mulai dari elektronik, otomotif, bahkan smartphone.
Gangguan pasokan ini berkaitan dengan tingginya ketergantungan global pada helium dari Timur Tengah. Qatar menyumbang hampir sepertiga produksi helium dunia, sekitar 63 juta meter kubik pada 2025.
Namun konflik Iran telah mengganggu sekitar sepertiga pasokan global, terutama karena hambatan distribusi di Selat Hormuz.
Selain itu, helium merupakan produk sampingan dari produksi gas alam cair (LNG). Gangguan pada fasilitas energi di Qatar ikut menekan produksi LNG dan berdampak langsung pada pasokan helium.
Melansir dari Al Jazeera, QatarEnergy memperkirakan ekspor helium cair akan turun sekitar 14 persen setiap tahun. Dampak krisis bahkan sudah dirasakan perusahaan teknologi.
Jerry Zhang, pimpinan penjualan China di perusahaan semikonduktor VAT, mengatakan konflik telah memperketat pasokan dan memengaruhi produksi. Ia juga menyebut keterlambatan transportasi memperparah kondisi, sehingga perusahaan mencari alternatif pasokan dari Amerika Serikat.
Gangguan juga terjadi pada rantai pasok bahan baku lain. Zhou Limin dari unit MRSI milik Mycronic mengatakan beberapa material dari Israel mengalami keterlambatan pengiriman. “Pasti ada dampak jangka pendek, dan itu sudah memengaruhi kami.”
Perusahaan gas industri juga mulai mengantisipasi kondisi ini. Seorang eksekutif Air Liquide memperingatkan adanya potensi kekurangan helium dalam jangka pendek.
Selain sektor teknologi, industri medis turut terdampak. Hal ini lantaran helium digunakan dalam mesin MRI untuk mendinginkan magnet superkonduktor. Gangguan pasokan berpotensi menghambat operasional alat tersebut.
CEO IndexBox, Aleksandr Romanenko, menyebut gangguan selama 30 hari dapat mendorong harga naik 10 hingga 20 persen. Jika berlangsung 60 hingga 90 hari, kenaikan bisa mencapai 25 hingga 50 persen.
Helium tidak memiliki pengganti sintetis, sehingga gangguan pasokan langsung berdampak pada berbagai sektor. Meski Amerika Serikat merupakan produsen terbesar, banyak negara tetap bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk.
Distributor besar seperti Airgas bahkan telah mengurangi pengiriman hingga setengah. Sementara itu, Air Liquide berencana mengalihkan rantai pasok ke sumber lain untuk menjaga ketersediaan.