Lepas Ketergantungan Impor, Industri Migas Nasional Didorong Bangkit Jadi Pemain Global

IAFMI dan KMI mendorong transformasi industri migas nasional
IAFMI dan KMI mendorong transformasi industri migas nasional

Industri minyak dan gas (migas) Indonesia saat ini dinilai tengah berada pada titik kritis. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor peralatan strategis, minimnya penguasaan teknologi, hingga masih lemahnya basis industri domestik menjadi batu sandungan bagi Indonesia untuk bersaing di rantai pasok global. 

Selama ini, Indonesia dinilai masih terjebak dalam skema ekstraksi sumber daya (resource extraction) dan belum sepenuhnya beralih pada penguatan kapabilitas industri (industrial capability).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Merespons urgensi tersebut, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) mendorong penuh transformasi industri penunjang migas nasional. 

Langkah nyata ini diwujudkan melalui kunjungan kerja (factory visit) ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di Kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon.

Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Sekjen IAFMI, Gede Pramona, didampingi jajaran pengurus IAFMI, serta dihadiri oleh Chairman KMI, S Herry Putranto. 

Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah merumuskan strategi penguatan daya saing produk pipa seamless dalam negeri yang kini telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 46%, agar benar-benar mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal," kata Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan dalam keterangannya, Minggu, 3 Mei 2026.

Kapabilitas industri nasional sejatinya telah dibuktikan oleh PT Artas Energi Petrogas. Sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Tanah Air, produk IST telah dipercaya dalam berbagai proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan standar kualitas global API 5CT dan API 5L. 

Tidak hanya melakukan substitusi impor, perusahaan ini juga telah berhasil mengekspor produknya ke pasar Asia hingga Timur Tengah, serta menyumbang devisa negara mencapai Rp 15 triliun.

Melalui kolaborasi strategis ini, IAFMI dan KMI menargetkan transformasi industri migas yang mampu memberikan lima dampak signifikan, yakni: penurunan tajam angka impor peralatan migas, efisiensi cost recovery, peningkatan TKDN yang berorientasi pada kualitas, lahirnya national champions di sektor industri migas, dan mengukuhkan Indonesia sebagai basis industri migas utama di kawasan Asia Tenggara.

Meski begitu, para pelaku industri sadar bahwa tantangan besar masih membentang. Beberapa di antaranya meliputi tingginya impor komponen kritikal, kurangnya penguasaan teknologi dan Research & Development (R&D).

Kemudian, kesenjangan kualitas SDM, hingga regulasi yang dinilai belum cukup kompetitif untuk mendongkrak citra (brand) industri nasional di panggung dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait tantangan dan potensi tersebut, S Herry Putranto selaku Chairman Komunitas Migas Indonesia menambahkan bahwa, “PT Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional serta investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global.”

Kunjungan industri di Cilegon ini pada akhirnya bermuara pada satu seruan terbuka kepada pemerintah. Para pemangku kepentingan mendesak adanya percepatan reformasi regulasi dan komitmen nyata dalam memperkuat kedaulatan rantai pasok demi terciptanya ekosistem industri migas yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing tinggi.