Musim Panen, Kawasan Adat Suku Badui Dipadati Wisatawan Pemburu Durian Baduy
Kawasan adat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, ramai dikunjungi wisatawan yang datang untuk menikmati musim panen durian.
Pengunjung berasal dari Banten, Jawa Barat, hingga Jakarta, dan memilih Badui karena duriannya dikenal manis serta bertekstur tebal.
Keramaian sudah terlihat sejak perjalanan menuju Terminal Ciboleger, pintu masuk permukiman adat Badui yang dapat ditempuh sekitar empat jam dari Jakarta.
Musim panen ini menjadi momentum tahunan yang selalu menarik minat wisatawan, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat adat.
Wisatawan Berburu Durian Baduy
Dilansir dari Antara, kenikmatan durian atau dalam bahasa Sunda disebut Kadu ini membuat wisatawan rela datang dari luar kota untuk melahapnya.
"Kami bersama teman-teman kantor ke Badui untuk menikmati buah durian," kata Agung (45), warga Jakarta saat ditemui di permukiman Badui, Rabu (10/11/2025).
Begitu tiba di kawasan tersebut, para pengunjung langsung disambut tumpukan durian Baduy yang dikenal memiliki rasa manis dan daging tebal.
"Buah durian Baduy rasanya manis. Dagingnya juga tebal. Untuk harganya Rp60 ribu per buah," ujar Agung menambahkan.
Selamat (40), warga Bogor, juga memilih datang bersama rombongan kerja untuk menikmati panorama pegunungan sambil mencicipi durian khas Badui.
"Kami pertama kali berkunjung ke Badui. Ternyata menyenangkan. Bisa melihat jembatan gajeboh yang terbuat dari bambu dan diikat tambang dan bisa dilintasi puluhan orang," katanya.
Pedagang Kebanjiran Rezeki Saat Musim Panen
Jamal, seorang pedagang durian di permukiman Badui, menyampaikan rasa syukurnya karena panen selama sebulan terakhir membawa keuntungan besar bagi warga.
Ia menyebut, hari itu saja dirinya sudah menjual 200 buah durian dengan harga Rp60 ribu per buah.
Petugas masyarakat adat, Sarman (50), mengatakan jumlah pengunjung yang datang untuk saba budaya Badui harian mencapai lebih dari 1.000 orang.
Para wisatawan didominasi pelajar, pekerja, hingga pasangan muda-mudi.
"Kami optimis pengunjung saba budaya bisa terus meningkat hingga perayaan Tahun Baru 2026," ujarnya.
Keistimewaan Durian Baduy
Durian baduy yang merupakan durian lokal dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, memiliki karakteristik yang membuat wisatawan rela menempuh perjalanan jauh.
Selain ditanam secara organik, buahnya beraroma kuat, daging duriannya tebal, dan rasanya manis.
Durian Baduy juga dikenal legit, dengan tekstur yang khas dan meninggalkan rasa kuat saat disantap.
Sentra durian terbesar ini berada di kawasan Badui, salah satunya karena adanya larangan adat yang sangat ketat terhadap penebangan pohon, termasuk pohon durian.
Aturan tersebut membuat populasi pohon durian tetap terjaga, sehingga produksi durian setiap tahun relatif stabil.
Perkebunan durian menjadi andalan ekonomi masyarakat Badui Luar maupun Badui Dalam.
Mulai dari petani, pemetik, hingga buruh panggul merasakan dampak kesejahteraan dari musim panen yang berlangsung di tanah hak ulayat Badui.
Ekosistem yang terpelihara serta tradisi adat menjadikan durian sebagai komoditas penting yang menopang kehidupan warga setempat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang