Srengege Wetan, Durian “Matahari Terbit” dari Banyuwangi yang Curi Perhatian

Durian, Banyuwangi, Srengege Wetan, Durian “Matahari Terbit” dari Banyuwangi yang Curi Perhatian

Di antara tumpukan durian lokal yang dipanen warga Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, satu nama mencuri perhatian yaitu “srengege wetan”.

Durian ini bukan sekadar buah. Dari namanya saja sudah bercerita, “srengenge wetan” yang berarti matahari terbit.

Nama itu disematkan karena warna daging buahnya yang tak biasa yaitu perpaduan oranye kemerahan dengan semburat kuning, menyerupai cahaya pagi di ufuk timur.

Durian tersebut milik Artoni, warga Desa Songgon, yang ikut dalam kontes Festival Durian Songgon yang digelar beberapa waktu lalu. Dari puluhan peserta, durian miliknya menjadi salah satu yang menonjol, bukan hanya karena warna, tapi juga rasa.

“Rasanya manis pulen, sedikit ada gurih pahitnya. Dagingnya lumayan tebal,” kata Artoni.

Kecamatan Songgon sendiri dikenal sebagai salah satu sentra durian di Banyuwangi. Luas kebunnya mencapai 94,8 hektar, dengan produksi hingga 3.716 ton pada 2025. Di wilayah ini, durian bukan sekadar hasil panen, tapi bagian dari identitas warga.

Keunikan seperti “Srengenge Wetan” menunjukkan bahwa durian lokal Songgon tak kalah bersaing. Tidak hanya durian kuning yang umum ditemui, tapi juga varian warna dengan karakter rasa yang khas.

Kepala Desa Songgon, M. Qodari, mengatakan saat ini wilayahnya masih berada di masa panen, meski produksi tahun ini menurun akibat faktor cuaca.

“Saat ini kami sedang panen raya. Produksi panen pada tahun ini menurun sekitar 70 persen dari tahun lalu. Untuk durian asli Songgon masih bisa dijumpai sampai akhir April,” ujarnya.

Di tengah musim panen yang terbatas waktunya, durian-durian dengan karakter unik seperti “Srengenge Wetan” menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih, Banyuwangi juga memiliki durian merah yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis dari pemerintah.

Keberagaman inilah yang membuat durian Songgon punya cerita lebih dari sekadar rasa. Ada warna, ada nama, dan ada identitas yang melekat di setiap buahnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan bahwa kontes durian yang digelar patut mendapatkan apresiasi, terkait bagaimana desa berinisiasi mengangkat potensinya lewat cara kreatif seperti festival durian.

Festival Durian disebutnya terselenggara berkat inisiasi Desa, Bumdes hingga pemuda karang taruna setempat. Berbagai event diselenggarakan mulai dari kontes Durian, bazaar durian, sarasehan pengembangan durian, hingga makan durian sepuasnya.

“Ini merupakan bentuk inovasi sekaligus kreatifitas yang membanggakan dan patut diteladani oleh desa-desa lainnya dalam upaya mempromosikan potensi lokal masing-masing,” tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang