Dewan Keamanan Republik Islam Sebut Trump-Netanyahu Pembunuh Utama Rakyat Iran
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, merespons unggahan Donald Trump di Truth Social yang mendesak warga Iran untuk menyimpan nama-nama pembunuh mereka.
Larijani tak sungkan mengumumkan nama-nama pembunuh sesungguhnya warga Iran dengan menulis: "Kami umumkan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1- Trump 2- Netanyahu." kata Larijani dilansir Iran International, Rabu, 14 Januari 2026.
Larijani tampaknya bereaksi terhadap Presiden AS Donald Trump yang pada hari Selasa, mengatakan bahwa ia telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran di tengah penindakan brutal terhadap para demonstran, dan mengatakan kepada warga Iran "bantuan sedang dalam perjalanan."
"Para Patriot Iran, TERUS BERPROTES - KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!! Simpan nama-nama pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar harga yang mahal," kata Trump dalam sebuah unggahan di akun Truth Social-nya.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency/HRA), yang berbasis di Amerika Serikat, melaporkan bahwa hingga Rabu pagi jumlah korban tewas di Iran mencapai sedikitnya 2.571 orang.
Angka tersebut jauh melampaui jumlah korban tewas dari protes atau kerusuhan lainnya di Iran dalam beberapa dekade dan mengingatkan pada kekacauan yang terjadi selama Revolusi Islam 1979 di negara itu.
Televisi pemerintah Iran memberikan pengakuan resmi pertama atas kematian tersebut, mengutip seorang pejabat yang mengatakan bahwa negara itu memiliki "banyak martir."
Demonstrasi dimulai pada akhir Desember sebagai bentuk kemarahan atas perekonomian Iran yang lesu dan segera menargetkan rezim teokrasi, khususnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun.
Gambar-gambar yang diperoleh Associated Press pada hari Selasa dari demonstrasi di Teheran menunjukkan grafiti dan nyanyian yang menyerukan kematian Khamenei — sesuatu yang dapat berujung pada hukuman mati.
Skylar Thompson dari Human Rights Activists News Agency mengatakan kepada AP bahwa jumlah korban baru itu mengejutkan, terutama karena mencapai empat kali lipat jumlah korban tewas dari protes Mahsa Amini yang berlangsung berbulan-bulan pada tahun 2022 hanya dalam dua minggu.
Ia memperingatkan bahwa jumlah korban akan terus meningkat: "Kami ngeri, tetapi kami masih berpikir angka tersebut masih konservatif,"
Beberapa bank dan kantor pemerintah dibakar selama kerusuhan, kata para saksi mata. Toko-toko buka pada hari Selasa, meskipun lalu lintas pejalan kaki di ibu kota sangat sedikit.
Di jalanan, orang-orang juga terlihat menantang petugas keamanan berpakaian preman, yang menghentikan orang-orang yang lewat secara acak.
Televisi pemerintah juga membacakan pernyataan tentang layanan kamar mayat dan kamar jenazah yang gratis — sebuah sinyal bahwa beberapa pihak kemungkinan mengenakan biaya tinggi untuk pengambilan jenazah selama penindakan tersebut.